Akhir Hidup Nabi Shalallohu ‘Alaihi Wa Sallam

LDII - Wafatnya Nabi - Ketika sakit cukup berat Rasulullah s.a.w. berpamitan pada istri-istrinya untuk tinggal di rumah Aisyah dan dirawat di sana. Saat itu Ali, menantunya, dan Abbas, paman beliau, yang membopong Nabi masuk rumah Aisyah.

Di dalam rumah, Nabi bersabda: “Siramlah aku dengan air dalam 7 girabah yang belum dibuka tutupnya, barangkali aku bisa menemui manusia”.

Maka Aisyah mendudukkan Nabi pada bak milik Hafshoh, istri Nabi, dan menuangkan air dalam girabah, sampai Nabi isyaroh: “Bagus, cukup”. Kemudian Nabi keluar pada manusia dan mengimami shalat dan berkhutbah. Ini adalah shalat jamaah dan khutbah terakhir karena setelah itu Nabi tidak pernah keluar lagi selamanya.
Menarik, lanjut ah!

Mansuh dan Naseh Ayat-ayat Al-Quran

LDII  - Mansuh dan Naseh -Dalam Kitab Suci Al-Quran Allah yang maha Barokah menggantikan suatu ayat dengan ayat lain yang lebih baik atau sepadan dengannya. Ayat-ayat yang sudah tidak berlaku disebut mansuh dan ayat –ayat pengganti adalah naseh. Pertama kali yang dimansuh oleh Allah adalah ayat tentang Kiblat sholat.

Dalam Surah Al-Baqoroh ayat 140, semula Allah menetapkan seorang istri yang ditinggal mati suaminya agar menetapi iddah selama satu tahun di dalam rumah suaminya dengan mendapatkan hak nafkah dari harta peninggalan almarhum suami. Kemudian ayat itu diganti dengan Surah Al-Baqoroh ayat 134 yang menyebutkan iddah wanita yang suaminya mati adalah 4 bulan 10 hari.
Menarik sekali, lanjut ah!

3 Golongan Tidak Dilihat Allah Pada Hari Kiamat

LDII - AirMenguasai air atau sumber daya alam lain untuk memperkaya diri sendiri atau kelompok tertentu tanpa mau membagikan pada umat yang membutuhkan dengan harga yang pantas adalah salah satu perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Sebagaimana Firman Allah dalam Hadist Quthsi Shohih Bukhari No. 2369 Kitabul Musyaqoh: “Pada hari ini (hari kiamat) aku menahan kefadholanku kepadamu sebagaimana engkau menguasai kelebihan sumber daya yang TIDAK engkau buat dengan tanganmu sendiri”.
Bagus sekali, baca terus

Menyia-nyiakan Harta

LDII - Menyia-nyiakan Harta - Diantara syariat pokok agama Allah adalah agar manusia meninggalkan agama / keyakinan yang diwariskan oleh nenek moyang dan agar mereka tidak mengelola harta benda semau sendiri. Sebagaimana terungkap dalam Surah Hud (11) ayat 87:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ (87)

Kaum Nabi Syuaib membantah: “Wahai Syuaib adakah agamamu memerintahkan agar kami meninggalkan apa-apa yang nenek-moyang kami sembah atau melarang kami mengelola harta kami sekehendak kami? Sesungguhnya engkau orang yang sok mulya dan merasa benar sendiri.
[Surah Hud (11) ayat 87]
Menarik sekali, baca terus ah!

Dibencinya Ibadah Berlebih-lebihan

LDII - Ibadah Berlebihan - Rasulullah shalallohu alaihi wa sallam melarang umat Islam beribadah secara berlebih-lebihan. Allah tidak akan bosan memberi pahala hambanya namun Nabi kuatir justru umatnya keberatan dan lari, karena ibadah yang melebihi batas. Nabi tidak ingin menjadikan ibadah sebagai beban berat yang membosankan namun ibadah sebagai rutinitas yang ringan dan menyenangkan.

69 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا»

… Nabi s.a.w. bersabda: “Kalian memudahlah jangan mempersulit, menyenangkanlah jangan membuat mereka lari”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 69 Kitabu Ilmi]

Menarik sekali, lanjut ah!

Haji Sambil Berdagang

LDII - Haji Sambil Berdagang - Pada masa jahiliyah orang-orang kafir Quraish biasa berdagang di pasar Ukadz, Majanah dan Dhul Majaz selama musim haji. Dalam Islam para shahabat merasa takut untuk berdagang dalam musim haji. Kemudian Allah menurunkan Surah Al-Baqarah ayat 198 yang menegaskan bolehnya seorang Muslim berhaji sambil berdagang termasuk pada waktu ihram.

Ayat ini sekaligus keleluasaan bagi kaum Muslimin untuk pergi haji ke Baitullah melalui jalur apapun. Berhaji selama masa kontrak kerja, atau semula niat bekerja mencari maisah di Makah kemudian berhaji. Berhaji sambil wisata juga tidak ada larangan. Pendapat bahwa orang berhaji niatnya harus murni untuk haji saja tidak boleh diboncengi niat lainnya adalah semata pendapat yang tidak berlandaskan dalil. Menarik sekali, lanjut ah!

Mendoakan dan Menyolati Mayat Orang Kafir

LDII - Menyolati Mayat Orang Kafir - Allah Ta’ala melarang Nabi Muhammad dan para Mu’min memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang kafir, musrik atau munafik, walaupun mereka kerabat atau keluarga sendiri. Ketika Abu Tholib meninggal dunia, Rasulullah s.a.w. berniat memintakan ampun pada Allah bagi paman yang beliau cintai itu. Seketika itu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat: “Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman jika memintakan ampunan bagi orang musyrik meskipun kerabat sendiri setelah apa-apa yang jelas bagi mereka, sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka jahim” [Surah At-Taubat(9) ayat 113].
Luar biasa, lanjut ah!