Menyia-nyiakan Harta

LDII - Menyia-nyiakan Harta - Diantara syariat pokok agama Allah adalah agar manusia meninggalkan agama / keyakinan yang diwariskan oleh nenek moyang dan agar mereka tidak mengelola harta benda semau sendiri. Sebagaimana terungkap dalam Surah Hud (11) ayat 87:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ (87)

Kaum Nabi Syuaib membantah: “Wahai Syuaib adakah agamamu memerintahkan agar kami meninggalkan apa-apa yang nenek-moyang kami sembah atau melarang kami mengelola harta kami sekehendak kami? Sesungguhnya engkau orang yang sok mulya dan merasa benar sendiri.
[Surah Hud (11) ayat 87]
Menarik sekali, baca terus ah!

Dibencinya Ibadah Berlebih-lebihan

LDII - Ibadah Berlebihan - Rasulullah shalallohu alaihi wa sallam melarang umat Islam beribadah secara berlebih-lebihan. Allah tidak akan bosan memberi pahala hambanya namun Nabi kuatir justru umatnya keberatan dan lari, karena ibadah yang melebihi batas. Nabi tidak ingin menjadikan ibadah sebagai beban berat yang membosankan namun ibadah sebagai rutinitas yang ringan dan menyenangkan.

69 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا»

… Nabi s.a.w. bersabda: “Kalian memudahlah jangan mempersulit, menyenangkanlah jangan membuat mereka lari”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 69 Kitabu Ilmi]

Menarik sekali, lanjut ah!

Haji Sambil Berdagang

LDII - Haji Sambil Berdagang - Pada masa jahiliyah orang-orang kafir Quraish biasa berdagang di pasar Ukadz, Majanah dan Dhul Majaz selama musim haji. Dalam Islam para shahabat merasa takut untuk berdagang dalam musim haji. Kemudian Allah menurunkan Surah Al-Baqarah ayat 198 yang menegaskan bolehnya seorang Muslim berhaji sambil berdagang termasuk pada waktu ihram.

Ayat ini sekaligus keleluasaan bagi kaum Muslimin untuk pergi haji ke Baitullah melalui jalur apapun. Berhaji selama masa kontrak kerja, atau semula niat bekerja mencari maisah di Makah kemudian berhaji. Berhaji sambil wisata juga tidak ada larangan. Pendapat bahwa orang berhaji niatnya harus murni untuk haji saja tidak boleh diboncengi niat lainnya adalah semata pendapat yang tidak berlandaskan dalil. Menarik sekali, lanjut ah!

Mendoakan dan Menyolati Mayat Orang Kafir

LDII - Menyolati Mayat Orang Kafir - Allah Ta’ala melarang Nabi Muhammad dan para Mu’min memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang kafir, musrik atau munafik, walaupun mereka kerabat atau keluarga sendiri. Ketika Abu Tholib meninggal dunia, Rasulullah s.a.w. berniat memintakan ampun pada Allah bagi paman yang beliau cintai itu. Seketika itu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat: “Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman jika memintakan ampunan bagi orang musyrik meskipun kerabat sendiri setelah apa-apa yang jelas bagi mereka, sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka jahim” [Surah At-Taubat(9) ayat 113].
Luar biasa, lanjut ah!

Suami Mati

LDII - Iddah Janda Mati -Pada masa jahiliyah seorang istri yang ditinggal mati suaminya melakukan belasungkawa selama satu tahun tidak keluar rumah dengan memakai baju paling jelek dan melumuri tubuhnya dengan kotoran hewan. Pada mulanya, Islam juga menerapkan masa berkabung bagi janda mati selama satu tahun. Selama masa berkabung itu tidak boleh keluar dari rumah mantan suaminya dan mendapat nafkah selama satu tahun dari harta peninggalan suami. Namun jika menghendaki, si janda diperbolehkan menjalani masa berkabung di luar rumah suaminya dengan syarat hak nafkahnya hilang.

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (240)

Laki-laki yang wafat diantara kalian dan meninggalkan beberapa istri hendaknya berwasiat pada istri-istri nya dengan nafkah salama satu tahun selagi tidak keluar rumah. Jika para istri itu keluar maka tidak dosa atas kalian (wali) atas perbuatan baik yang para mantan istri lakukan dan Allah Maha Mulya dan Maha Menghukumi.
[Surah Al-Baqoroh ayat 240]
Bagus, lanjut ah!

Menangisi Orang Mati

LDII - Menangisi Orang Mati - Matinya seseorang merupakan salah satu qodar Allah. Kapan, dimana, dan usia berapa seseorang meninggal dunia telah ditetapkan pada waktunya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menghadapi cobaan ditinggal mati anggota keluarga, tidak ada jalan terbaik kecuali bersabar dan mengharap ridho Allah.

Dalam Islam, bersedih dan menangisi orang mati adalah hal yang wajar dan diperbolehkan selagi tidak berlebih-lebihan. Menangisi anggota keluarga yang meninggal dunia merupakan ekspresi kasih sayang seseorang pada almarhum.

Termasuk menangisi jenazah secara berlebih-lebihan, yaitu:

  1. Menangis dengan suara keras/berteriak-teriak/meraung-raung, memukul-mukul wajah, menyobek-nyobek baju dan berbagai ekspresi penyesalan yang berlebihan dan perbuatan lain sebagai bentuk tidak terima dengan qodar Allah.
  2. Menjadikan ’menangisi mayat’ sebagai tradisi. Berkeyakinan bahwa semakin banyak ditangisi orang maka jenazah dianggap sebagai orang baik, dan bisa mengangkat derajat si mayit di akhirat. Dengan keyakinan ini timbul budaya arisan menangisi orang mati dan membayar orang lain untuk menangisi anggota keluarga yang mati.

Menarik sekali, baca terus ah!

Tata Cara Berwudhu

LDII - Wudhu -Suci adalah syarat sahnya shalat. Seseorang tidak dikatakan shalat bila tidak suci badan dan tempatnya. Salah satu cara mensucikan diri adalah dengan berwudhu. Walau demikian seorang Muslim tidak harus berwudhu setiap akan shalat. Sekali wudhu bisa digunakan untuk sholat beberapa kali selagi belum batal.

وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الكَعْبَيْنِ}

Firman Allah yang Maha Mulya: “Ketika engkau hendak shalat basuhlah wajahmu, dan kedua tanganmu sampai sikut, dan usaplah kepalamu dan dua kakimu sampai mata kaki”.
[Surah Al-Maidah ayat 6]
Penting nih, baca terus ah!