Mubaligh Ulung

mubaligh-ldiiPada dasarnya setiap Muslim adalah mubaligh karena setiap individu orang Islam dituntut untuk menyampaikan ajaran Islam walau hanya satu ayat, sesuai dengan sabda Nabi dalam Hadist Shohih Bukhori No.3461:

3461 – حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ، أَخْبَرَنَا الأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي كَبْشَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، …ِ»

… dari Abdillah bin Amri, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:”Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat”…
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan Islam Quran dan Hadist merupakan peran besar dari para Ulama, Mubaligh dan Mubalighot. Bagaimanakah profil mubaligh dan mubalighot yang sukses mengembangkan Islam, memiliki banyak pengikut dan santri? Setidaknya ada 3 syarat untuk menjadi seorang penyampai agama yang berhasil:

  1. Banyak ilmunya
  2. Berakhlakul karimah
  3. Semangat dalam mengajarkan ilmunya dan mengajak belajar.

1. Seorang Mubaligh Harus Banyak Ilmunya

Mubaligh adalah tokoh panutan yang dipandang oleh masyarakat Muslim, karena itu mutlak bagi seorang mubaligh untuk memiliki ilmu sebanyak-banyaknya. Untuk itu para penyebar agama diharuskan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Seperti sabda sahabat Umar RA tertulis dalam hadist Bukhari Kitabu Ilmi:

>وَقَالَ عُمَرُ: «تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا» …الحديث

“Fahamkanlah dirimu sebelum menjadi panutan …”
 
Salah satu metoda mencari ilmu adalah dengan mondok. Mondok adalah belajar agama dengan meluangkan waktu khusus di lingkungan yang terisolasi khusus untuk belajar agama dengan meninggalkan keluarga jauh dari pengaruh-pengaruh dunia lainnya.

Menuntut ilmu dengan cara mondok sudah dilakukan oleh para sahabat pada jaman Rasulillah SAW, seperti diriwayatkan dalam hadist Shohih Bukhori No.6008 Kitabul Adab

6008 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الحُوَيْرِثِ، قَالَ: أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا، وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا، فَأَخْبَرْنَاهُ، وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا، فَقَالَ: «ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ، …الحديث»
__________
[تعليق مصطفى البغا]
5662 (5/2238) -[ر 602]

… Abi Sulaiman Malik Malik bin Al-Huwairitsi meriwayatkan:”Kami dating pada Nabi SAW dan saya adalah pemuda yang sebaya maka kami bertempat di sisi Nabi (mondok) dua puluh hari, maka kami merasa rindu keluarga kami dan Nabi bertanya pada kami perihal orang yang meninggalkan keluarga kami maka memberitahukan kami pada Nabi dan Nabi dengan lembut dan penyayang maka belai bersabda: ”Kembalilah kalian pada keluarga kalian maka ajarilah mereka (keluarga)dan perintahlah mereka … al-Hadist.

[Hadist Shohih Bukhori No.6008 Kitabul Adab]

 
Selain dengan mondok, Untuk memiliki banyak ilmu juga bisa dilakukan dengan mengabdi pada orang alim. Cara ini dicontohkan oleh sahabat Abi Hurairah yang mengabdikan hidupnya pada Rasulullah SAW selama tiga tahun. Selama itu pula hidup Abi Hurairah tidak lepas dari Nabi. Karena itu Abi Hurairah dikenal sebagai sahabat yang paling banyak mempunyai hadist yang konon mencapai 5672 hadist. Banyaknya ilmu Aba Hurairah ini mengherankan para sahabat lain dari golognan Ansor maupun Muhajir. Salah satu sisi hidup Aba hurairah ini tercatat dalam Hadist Bukhari Nomor 2047 Kitabul Buyu’

2047 – حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ المُسَيِّبِ، وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: إِنَّكُمْ تَقُولُونَ: إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَقُولُونَ مَا بَالُ المُهَاجِرِينَ، وَالأَنْصَارِ لاَ يُحَدِّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنَ المُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ صَفْقٌ بِالأَسْوَاقِ، وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي، فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا، وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا، وَكَانَ يَشْغَلُ إِخْوَتِي مِنَ الأَنْصَارِ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ، وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا مِنْ مَسَاكِينِ الصُّفَّةِ، أَعِي حِينَ يَنْسَوْنَ …الحديث

…Abi Hurairah RA mengatakan sesungguhnya kamu sekalian mengatakan sesungguhnya Aba Hurairah memperbanyak Hadist dari Rasulillah SAW dan kalian mengatakan bagaimana keadaannya Muhajir dan Anshor tidak meriwayatkan Hadist dari Rasulillah SAW sebanyak hadist Abi Hurairah dan sesungguhnya saudara-saudaraku dari Muhajir ada menyibukkan pada mereka jual beli di pasar dan aku selalu bersama Rasulullah SAW atas kenyangnya perutku maka aku hadir ketika merika tidak hadir dan aku hafal ketika mereka lupa dan saudara-saudaraku dari anshor menyibukkan diri dalam urusan harta mereka sedangkan aku orang miskin dari Asshufah saya hafal / faham apa-apa yang mereka lupa …al-hadist.
&nbsp

2. Berakhlakul Karimah

Memiliki budi pekerti yang baik merupakan syarat mutlak bagi seorang mubaligh atau mubalighot. Seorang penyampai agama dituntut berpenampilan yang baik, lemah lembut, sopan santun, tabah dan sabar. Sesuai dengan Firma Allah dalam surat Ali Imron ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ…الاية

Maka sebab rahmat dari Allah engkau lemah lembut kepada mereka seandainya engkau keras dan kasar hatimu niscaya mereka bubar dari sekelilingmu …
Sifat sabar dan lemah lembut juga ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dalam mengajar atau menasehati seseorang. Seperti kesaksian sahabat Muawiyah bin Alhkam yang tercatat dalam Hadist shohih Muslim No. 537 (33) bahwa tidak ada orang yang lebih baik perilakunya dalam mengajar selain Nabi.

33 – (537) …، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ، فَوَاللهِ، مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي، قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ»

… ketika Rasulullah SAW selesai shalat dengan bapak dan ibuku (kata sanjungan) aku tidak pernah melihat orang yang mengajar sebelum Nabi dan sesudah Nabi lebih baik mengajarnya daripada Nabi. Maka demi Allah beliau tanpa membentak dan tanpa memukul dan tidak mencela beliau bersabda: “Sesungguhnya ini shalat tidak boleh dalam shalat sesuatu dari perkataan manusia sesungguhnya shalat itu mensucikan dan takbir dan membaca Al-Quran…”

[Hadist shohih Muslim No. 537 (33)]

 

3. Semangat dalam mengajarkan ilmunya dan mengajak belajar

Tidak hanya harus semangat mencari ilmu dan banyak menderes, seorang mubaligh juga harus memilki semangat juang yang besar dalam menyebarkan ilmunya. Seorang pembawa agama harus memiliki sifat sabar dan tabah, tidak mudah putus asa dalam mengajarkan ilmunya, siap melayani siapapun yang meminta ilmu kapanpun. Watak ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang selalu menyambut gembira setiap orang yang datang untuk mencari ilmu sekalipun kondisi beliau sedang payah. Sebagaimana tertulis dalam Hadist RiwayatTabrani No. 8348

7347 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ومُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، قَالَا: ثنا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخٍ، ثنا الصَّعْقُ بْنُ حَزْنٍ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ الْبُنَانِيُّ، عَنِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ حَدَّثَ صَفْوَانُ بْنُ عَسَّالٍ الْمُرَادِيُّ قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَهُوَ مُتَّكِئٌ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى بُرْدٍ لَهُ فَقُلْتُ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي جِئْتُ أَطْلُبُ الْعِلْمَ، فَقَالَ: «مَرْحَبًا بطالبِ الْعِلْمِ، طَالِبُ الْعِلْمِ لَتَحُفُّهُ الْمَلَائِكَةُ وَتُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا، ثُمَّ يَرْكَبُ بَعْضُهُ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغُوا السَّمَاءَ الدُّنْيَا مِنْ حُبِّهِمْ لِمَا يَطْلُبُ، … الحديث

… dari Abdillah bin Masud RA berkata Sofyan bin ‘Asal Al-Muradi bercerita: “Aku datang pada Rasulullah SAW dan beliau sedang bersandar di dalam Masjid atas selimunya, maka aku berkata pada beliau, Wahai rasulullah sesungguhnya saya datang untuk mencari ilmu maka Nabi memngucapkan’ “Selamat datang dengan mencari ilmu, orang yang mencari ilmu para malaikat mengelilingi dan menaungi orang yang mencari ilmu dengan sayap mereka kemudian menaiki sebagian mereka pada sebagian sehingga sampai ke langit dunia karena cinta mereka pada apa-apa yang mereka cari …”

[Riwayat Thabrani No.7347]
Iklan

2 responses to “Mubaligh Ulung

  1. Reblogged this on desaakhirat and commented:
    Aswb,mohon ijin pak kyai reblog .alhamdulillah jazakumullohu khoiro

  2. Assalamu’alaikum, Pak saya mau tanya Apakah kita boleh merubah kesepakatan Iq’ror, Contonya,Sebelum bangun teras Masjid Ibu/cewek-cewk yg haid itu mash berada di dalam Masjd. Tapi ada tempatnya di khususkan. Nah setelah teras Masjid dibangun,apakah tempat Ibu2 yang Had di pindah ke teras yang di bangun itu? kemudian tempat yang awalnya di pakai utk orang yg Haid apakah boleh di pakai Sholat?……… Alhamdulila jaza kallahu khoiro

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s