Hati-hati Perangkap Iblis Wanita

Nasehat LDIIJaman sekarang kemaksiatan dan dosa sudah membaur dalam kehidupan kita. Perbuatan dosa dan pelanggaran agama sudah dianggap wajar dan biasa. Perzinaan dan pergaulan bebas bahkan sudah dianggap budaya yang lazim. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi semakin mempermudah seseorang mendapatkan akses perbuatan zina.

Umat islam mesti berhati-hati terhadap perangkap syetan berupa zina. Zina sudah sangat mudah dan murah. Maka hindarkanlah segala akses yang mengarah perbuatan zina. Usahakan menghindarkan kontak dengan wanita atau laki-laki yang bukan muhrim baik secara visual, verbal maupun secara fisik. Kalau terpaksa harus berurusan dengan wanita atau pria yang bukan mahromnya usahakan diwakilkan kepada saudara atau keluarga sejenis yang semuhrim .

Maka kisah seorang pelacur yang menjebak seorang laki-laki ahli ibadah di bawah ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua. Dikisahkan seorang lelaki sholeh yang alim ternyata dapat dipedayai dan dijebak oleh wanita untuk berbuat maksiat. Jadi tidak ada jaminan siapapun untuk terhindar dari perbuatan zina; apakah ia seorang kyai, ulama, intelek atau warga masyarakat biasa.

شُعَبُ الْإِيمَانِ لِلْبَيْهَقِيِّ
5197 – أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ، أَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ الْجَوْزِيُّ، ثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللهِ [ص:407] بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الدُّنْيَا، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَرِيعٍ الْبَصْرِيُّ، ثَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ النُّمَيْرِيُّ، ثَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ أَبِيهِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: سَمِعْتُ عُثْمَانَ خَطِيبًا فَقَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” اجْتَنِبُوا أُمَّ الْخَبَائِثِ فَإِنَّهُ كَانَ رَجُلٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يَتَعَبَّدُ وَيَعْتَزِلُ النِّسَاءَ، فَلَقِيَتٍهُ امْرَأَةٌ غَاوِيَةُ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ خَادِمَهَا فَقَالَتْ: إِنَّا نَدْعُوكَ لِشَهَادَةٍ فَدَخَلَ فَطَفِقَتْ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا بَابًا أَغْلَقَتْهُ دُونَهُ حَتَّى أَفْضَى إِلَى امْرَأَةٍ وَضِيئَةٍ جَالِسَةٍ وَعِنْدَهَا غُلَامٌ وَبَاطِيَةٌ فِيهَا خَمْرٌ فَقَالَتْ: أَنَا لَمْ أَدْعُكَ لِشَهَادَةٍ وَلَكِنْ دَعْوَتُكَ لِتَقْتُلَ هَذَا الْغُلَامَ أَوْ تَقَعَ عَلَيَّ أَوْ تَشْرَبَ كَأْسًا مِنْ هَذَا الْخَمْرِ فَإِنْ أَبَيْتَ صِحْتُ وَفَضَحْتُكَ، فَلَمَّا رَأَى أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: اسْقِينِي كَأْسًا مِنْ هَذَا الْخَمْرِ فَسَقَتْهُ كَأْسًا مِنَ الْخَمْرِ ثُمَّ قَالَ: زِيدِينِي فَلَمْ يَرِمْ حَتَّى وَقَعَ عَلَيْهَا وَقَتَلَ النَّفْسَ فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَجْتَمِعُ الْإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ فِي صَدْرِ رَجُلٍ أَبَدًا لَيُوشِكَنَّ أَحَدُهُمَا أَنْ يُخْرِجَ صَاحِبَهُ ” رَفَعَهُ عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سُرَيْجٍ هَذَا.
وَقَدْ رواه الْبَيْهَقِيِّ في شُعَبُ الْإِيمَانِ

Jauhilah induk dari segala perbuatan jahat (khmer). Bahwasannya ada seorang laki-laki pada jaman sebelum kalian yang ahli ibadah dan terjaga dari (pelanggaran terhadap) wanita.

Maka datang padanya seorang perempuan pelacur kemudian perempuan itu memerintahkan kepada pembantunya, maka ia berkata:

“Sesungguhnya kami mengundang kamu untuk menjadi saksi”.

Maka masuklah laki-laki itu dan beraksilah perempuan pelacur tersebut. Ketika laki-laki itu masuk dan pelacur itu segera menutup pintu dan minta agar menyetubuhi perempuan yang cantik yang duduk dan disisinya ada seorang anak kecil dan gelas berisi khamr, kemudian pelacur itu berkata:

“Aku memanggil kamu tidak untuk menjadi saksi, tetapi aku meminta untuk membunuh anak ini atau menyetubuhi aku atau minum khamr yang ada dalam gelas ini. Jika kamu menolak maka aku akan berteriak dan akan menyiarkan aib kamu”.

Ketika laki-laki itu merasam bahwa tidak boleh tidak (harus) mengerjakan perbuatan itu maka ia berkata:

“Berilah aku minuman dari wadah khamr itu”.

Maka pelacur itu memberikan khamr kepada laki-laki itu. Kemudian ia berkata:
“Tambahkanlah khamr itu padaku”.

Maka ia tidak tinggal diam hingga menyetubuhi pelacur itu dan membunuh anak kecil itu juga.

Maka hendaklah kalian menjauhi minuman keras, karena demi Allah tidak akan pernah berkumpul keimanan seseorang dengan kebiasaan minum khamr dalam hati seorang laki-laki selamanya. Niscaya hamper (pasti) salah satu diantara keduanya akan mengeluarkan pada salah satunya (iman yang keluar atau khamr yang ditinggalkan).

Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s