Wudhu Untuk Tawaf di Baitullah

LDII - Wudhu Untuk TawafSalah satu syarat bagi jamaah sebelum tawaf di Baitullah adalah wudhu. Seorang Muslim yang tawaf harus suci dari hadas kecil dan hadas besar. Apabila dalam pertengahan tawaf wudhunya batal maka ia harus wudhu kembali kemudian melanjutkan putaran tawaf yang tersisa, tidak perlu mengulangi dari awal. Tawaf adalah berjalan berlawanan arah jarum jam mengelilingi Ka’bah 7 kali diakhiri dengan shalat 2 rakaat di belakang Makom Ibrahim.

Wajibnya wudhu sebelum tawaf bisa dikaji dalam Hadist Shohih Bukhari No. 1641 Kitabul Haji Bab At-Thawafi ala Whudhu’i, untuk hadist Bukhari versi cetak ada di halaman 548. Kandungan lain dari hadist tersebut bahwa Rasulullah SAW dan juga para sahabat ketika datang atau sampai di kota Mekah yang pertama kali dilakukan adalah TAWAF di Baitullah. Jadi tawaf di Ka’bah adalah ibadah sunah yang bisa dilaksanakan kapanpun.

1641 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الحَارِثِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ نَوْفَلٍ القُرَشِيِّ، أَنَّهُ سَأَلَ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ فَقَالَ: قَدْ حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّهُ أَوَّلُ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ حِينَ قَدِمَ أَنَّهُ تَوَضَّأَ، ثُمَّ طَافَ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةً» ثُمَّ حَجَّ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةً ثُمَّ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ حَجَّ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَرَأَيْتُهُ أَوَّلُ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةً ثُمَّ مُعَاوِيَةُ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، ثُمَّ حَجَجْتُ مَعَ أَبِي الزُّبَيْرِ بْنِ العَوَّامِ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةً ثُمَّ رَأَيْتُ المُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارَ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةً، ثُمَّ آخِرُ مَنْ رَأَيْتُ فَعَلَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ، ثُمَّ لَمْ يَنْقُضْهَا عُمْرَةً، وَهَذَا ابْنُ عُمَرَ عِنْدَهُمْ فَلاَ يَسْأَلُونَهُ، وَلاَ أَحَدٌ مِمَّنْ مَضَى، مَا كَانُوا يَبْدَءُونَ بِشَيْءٍ حَتَّى يَضَعُوا أَقْدَامَهُمْ مِنَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لاَ يَحِلُّونَ وَقَدْ رَأَيْتُ أُمِّي وَخَالَتِي حِينَ تَقْدَمَانِ، لاَ تَبْتَدِئَانِ بِشَيْءٍ أَوَّلَ مِنَ البَيْتِ، تَطُوفَانِ بِهِ، ثُمَّ إِنَّهُمَا لاَ تَحِلَّانِ

1642 – وَقَدْ أَخْبَرَتْنِي أُمِّي: أَنَّهَا أَهَلَّتْ هِيَ وَأُخْتُهَا وَالزُّبَيْرُ وَفُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، بِعُمْرَةٍ، فَلَمَّا مَسَحُوا الرُّكْنَ حَلُّوا

… Abdirrahman bin Naufal Al-Quraisyi: sesungguhnya ia bertanya pada ‘Urwah bin Zubair, maka ‘Urwah menjawab: Sunguh-sungguh Nabi SAW berhaji, maka Aisyah r.a. mengabari padaku: Sesungguhnya sesuatu pertama kali yang Nabi mulai ketika datang ia (Nabi) berwudhu, kemudian Nabi tawaf di Baitullah. Kemudian tidak ada dia (Nabi) ihram.

Kemudian Abu Bakar r.a. haji, maka ada pertama kali yang ia mulai adalah tawaf di Baitullah, Kemudian tidak ada dia (Abu Bakar) ihram.

Kemudian Umar r.a. seperti itu juga.

Kemudian Usman r.a. haji, maka aku (Aisyah) melihat pada Usman, pertama kali yang ia mulai adalah tawaf di Baitullah. Kemudian tidak ada dia (Usman) ihram.

Kemudian Muawiyah dan Abdullah bin Umar.

Kemudian Aku haji bersama Abi Zubair bin Al-Awwan maka ada pertama kali yang ia mulai adalah tawaf di Baitullah. Kemudian tidak ada kami ihram.

Kemudian saya (Aisyah) melihat golongan Muhajirin dan Ansor berbuat demikian. Kemudian tidak ada mereka ihram.
Kemudian orang terkhir berbuat demikian adalah Ibnu Umar, kemudian ia tidak merusak ihramnya. Dan Ibnu Umar ini disamping merka maka mereka tidak bertanya pada Ibnu Umar., dan tidak seorangpun dari mereka telah lewat, apa-apa yang ada mereka mulai dengan sesuatu sehinga meletkkan kedua telapak mereka dari tawaf di Baitullah. Kemudian mereka tidak lukar, dan sunguh-sunguh saya melihat ibuku dan bibiku, ketika keduanya dating, mereka tidak memulai dengan sesuatu yang pertama dari Batullah, keduanya tawaf di Baitullah, kemudian tidak lukar
Dan sungguh-sungguh ibuku memberitahu aku,: sesungguhnya beliau ihram dia dan adiknya dan Zubair, dan fulan dan fulan, dengan ihram umrah, ketika mengusap pojok mereka lukar.

[Hadist Shohih Bukhari No. 1641-1642 Kitabul Haji Bab Al-Thawafi ala Whudhu’i]
Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s