Haji Qiron

Peta Haji - LDII

Peta perjalanan haji


Jamaah haji wukuf di Arofah 9 Dhul-Hijjag, mulai matahari terbenam

Jamaah haji wukuf di Arofah 9 Dhul-Hijjah, mulai matahari condong ke barat sampai matahari terbenam


Jamaah haji meninggalkan Arafah petang 9 Dhul-Hijjah menuju Muzdalifa

Jamaah haji meninggalkan Arafah saat petang 9 Dhul-Hijjah menuju Muzdalifa


Jamaah haji mabit / bermalam di Muzdalifa dan mengumpulkan kerikil untuk lempar Jumrah besok pagi di Mina

Di Muzdalifa malam tanggal 10 Dhul-Hijjah Jamaah haji shalat mghrib dan isha’ qasar jama’ ta’khir, mengumpulkan kerikil untuk lempar Jumrah besok pagi di Mina dan mabit / bermalam


Jamaah haji melempar Jumrah Aqobah waktu dhuha di Mina 10 Dhul-Hijjah

Jamaah haji melempar Jumrah Aqobah waktu dhuha di Mina 10 Dhul-Hijjah, dilanjutkan menyembelih dam atau hadiyah atau qurban kemudian mencukur rambut kepala dan lukar

Haji Qiron yaitu mengerjakan ihram haji digandeng dengan umrah dalam bulan haji dari miqot. Pakaian ihram dikenakan menerus mulai umrah sampai dengan melempar jumrah aqobah pada tanggal 10 Dhul-Hijjah setelah itu baru lukar. Bulan haji adalah tanggal 1 Syawal sampai 10 Dhul-Hijjah.

Bagi jamaah yang melaksanakan haji Qiron diwajibkan menyembelih dam / hadiyah berupa seekor unta atau yang sejenisnya. Menyembelih unta bukan merupakan denda atas pelanggaran haji namun semata-mata sebagai menetapi rangkaian kewajiban ibadah haji.

Haji Qiran adalah tata-cara haji yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW pada Haji Wada’ tahun 10 Hijriyah. Dalam hadist Ibni Majah No. 2916, 2968 dan 2969 sahabat Anas bin Malik menceritakan bahwa ia mendengarkan Rasulullah SAW mengucapkan niat umrah dan haji sekaligus.

2917 – حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، قَالَا: حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: إِنِّي عِنْدَ ثَفِنَاتِ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عِنْدَ الشَّجَرَةِ، فَلَمَّا اسْتَوَتْ بِهِ قَائِمَةً، قَالَ: «لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحِجَّةٍ مَعًا» وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ
__________
[حكم الألباني] صحيح الإسناد
… Anas bin Malik meriwayatkan, sesungguhnya saya berada di dekat dua lutut ontanya Rasulillah SAW dekat pohon. Ketika Nabi tegak berdiri, Beliau mengucapkan: “لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحِجَّةٍ مَعًا” demikian itu dalam haji wada’.
[Hadist Ibni Majah No. 2916 Kitabu Manasik]


2968 – حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «لَبَّيْكَ عُمْرَةً، وَحِجَّةً»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… Anas bin Malik meriwayatkan: Saya keluar bersama rasulillah SAW ke Mekah, maka saya mendengar Nabi mengucap: “لَبَّيْكَ عُمْرَةً، وَحِجَّةً”
[Hadist Ibni Majah No. 2968 Kitabu Manasik]

2969 – حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ: حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ، وَحِجَّةٍ»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… dari Anas, sesungguhnya Nabi SAW mengucap: “لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ، وَحِجَّةٍ”
[Hadist Ibni Majah No. 2969 Kitabu Manasik]


2971 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو طَلْحَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «قَرَنَ الْحَجَّ، وَالْعُمْرَةَ»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… Ibnu Abas meriwayatkan: Abu Thalhah bercerita kepadaku, sesungguhnya Rasulalloh SAW menggabung haji dan umrah.
[Hadist Ibni Majah No. 2971 Kitabu Manasik]


2975 – حَدَّثَنَا مُحْرِزُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَحْرَمَ بِالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، كَفَى لَهُمَا طَوَافٌ وَاحِدٌ، وَلَمْ يَحِلَّ، حَتَّى يَقْضِيَ حَجَّهُ، وَيَحِلَّ مِنْهُمَا جَمِيعًا»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… dari Ibna Umar, sesungguhnya Rasulallahi SAW bersabda: “Barang siapa ihram untuk haji dan umrah, cukup bagi keduanya tawaf satu kali, dan tidak lukar sampai selesai hajinya, dan lukar dari keduanya (umrah dan haji) bersama-sama”.
[Hadist Ibni Majah No. 2975 Kitabu Manasik]


Tata-cara Ibadah Haji Qiran

Rangkaian praktek pelaksanan ibadah Haji Qiran adalah sebagai berikut:

  1. Mulai ihram dari miqat dalam bulan haji (1 Syawal sampai dengan menjelang pelaksanaan haji) dengan mengerjakan:
    • Mandi seperti mandi jinabat.
    • Memakai pakaian ihram
    • Shalat sunah 2 rakaat di miqat.
    • Membaca niat umrah dan haji (Umrah digandeng langsung dengan haji) , contoh: لَبَّيكَ اللهُمَّ حَجًّا وَعُمْرَةً
  2. Berangkat ke Baitullah dari miqat sambil terus-menerus membaca talbiyah dengan suara keras.
    «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ، لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»
  3. Mengerjakan umrah (tawaf di Baitullah diakhiri dengan salat 2 rakaat di belakang Makom Ibrahim kemudian dilanjutkan Sa’i Safa Marwah). Setelah selesai umrah tidak lukar, tetap memakai pakaian ihram sampai waktu pelaksanaan haji tanggal 8 Dhulhijjah dan seterusnya. Selama mengenakan pakaian ihram berlaku larangan-larangan ihram, termasuk tidak boleh menjimak istri.
  4. Tanggal 8 Dhul-Hijjah berangkat menuju ke Arafah untuk mengerjakan wukuf. Dalam perjalanan terus melafadkan talbiyah dengan suara keras. Perjalanan ke Padang Arafah bisa dilakukan dengan berjalan kaki (Masiyan) atau naik kendaraan (Rokiban).
  5. Tanggal 9 Dhul-Hijjah , wukuf di Arafah mulai waktu matahari condong ke barat sampai matahari terbenam. Shalat dhuhur dan asar dilakukan dengan qasar jama’ taqdhim. Selama wukuf memperbanyak doa:
    «اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كَالَّذِي نَقُولُ وَخَيْرًا مِمَّا نَقُولُ، اللَّهُمَّ لَكَ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي، وَإِلَيْكَ مَآبِي، وَلَكَ رَبِّ تُرَاثِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَوَسْوَسَةِ الصَّدْرِ وَشَتَاتِ الأَمْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَجِيءُ بِهِ الرِّيحُ»

    Dan boleh ditambah doa-doa lain.

  6. Sore hari setelah matahari terbenam meninggalkan padang Arofah menuju Muzdalifah sambil terus menerus membaca talbiyah atau takbir dengan suara keras.
  7. Pada malam tanggal 10 Dhul-Hijjah bermalam / mabit di Muzdalifah.
    Pekerjaan di Muzdalifah:

    1. Salat maghrib dan isha’ qoshor jama’ ta’khir.
    2. Mengumpulkan kerikil untuk melempar jumrah di Mina besok harinya.
    3. Bermalam / mabit.
    4. Shalat subuh lalu berhenti sebentar untuk berdoa sampai agak terang.
  8. Pagi hari sebelum matahari terbit meninggalkan Muzdalifah berangkat menuju Mina dengan terus-menerus membaca talbiyah atau takbir.
    Amalan di Mina:

    1. Pada waktu dhuha melempar jumrah aqobah tanggal 10 Dhul-Hijjah. Tata cara melempar jumroh sebagai berikut:
      • Arah Baitullah di sebelah kiri dan Mina (tempat mabit) disebelah kanan.
      • Melempar tugu jamarat sampai kena sebanyak 7 (tujuh) kali. Lemparan yang meleset / tidak kena tidak dihitung.
      • Membaca takbir pada saat akan melempar atau bersamaan dengan kerikil yang dilemparkan atau sesudah batu mengenai tugu jamarat.
    2. Menyembelih hadiyah (onta). Menyembelih onta wajib bagi jamaah yang melaksanakan haji Qiran.
    3. Cukur gundul / menggunting rambut kepala.
    4. Lukar dan semua larangan ihram sudah halal kecuali menjima’ istri.
  9. Tawaf Ifadhoh, boleh ditunda bagi yang berhalangan namun tidak boleh berhubungan badan suami istri sebelum tawaf ifadhoh.
  10. Pada malam tanggal 11, 12 dan 13 Dhul-Hijjah bermalam / mabit di Mina dan siang harinya mulai matahari condong ke barat sampai sebelum terbenam, melempar jumroh Ula – Wustho – Aqobah.


    Bagi jamaah yang nafar awal amalan mabit di Mina dan melempar 3 jumrah cukup sampai tanggal 12 Dhul-Hijjah. Sebelum matahari terbenam harus sudah meninggalkan Mina.
  11. Menjelang pulang mengerjakan tawaf wada’ (tawaf perpisahan)
Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s