Haji Ifrod

Jamaah yang melaksanakan haji Ifrod umrahnya 9Tawaf dan sa'i dilaksanakan di luar bulan haji.

Jamaah yang melaksanakan haji Ifrod umrahnya (Tawaf dan Sa’i) dilaksanakan di luar bulan haji.


Sa'i Safa Marwa sebagai bagian dari umrah haji dilaksanakan di luar bulan haji. Bulan haji adalah 1 Syawal - 10 Dhul-Hijjah

Sa’i Safa Marwa sebagai bagian dari umrah haji dilaksanakan di luar bulan haji. Bulan haji adalah 1 Syawal – 10 Dhul-Hijjah

Salah satu rukun haji adalah umrah, yaitu tawaf di Baitullah dan Sai antara bukit Safa dan bukit Marwa. Jamaah yang melaksanakan ibadah haji juga wajib mengerjakan umrah. Umrah haji bisa dilaksanakan dalam bulan haji atau di luar bulan haji. Haji Ifrod adalah haji yang umrohnya dikerjakan di luar bulan haji, boleh sebelumnya atau sesudahnya. Bulan haji adalah mulai tanggal 1 Syawal sampai 10 Dhul-Hijjah.

Contoh haji Ifrod adalah hajinya Aisyah r.a. bersama Rasulillah s.a.w. pada tahun 10 Hijriyah sebagaimana tertulis dalam Hadist Sunan Ibni Majah No. 3000 Kitabu Manasik. Dalam haji wada’ bersama Nabi itu Aisyah melaksanakan umrah setelah selesai haji yaitu di luar bulan haji, karena selama tiba di Mekah sampai waktu pelaksanaan haji ia tidak dapat melaksanakan tawaf di Baitullah karena terhalang haid. Wanita yang sedang haid dapat melaksanakan semua rukun haji kecuali tawaf di Baitullah, tidak boleh.

Dalam Haji Ifrod jamaah tidak berkewajiban membayar dam, shodakoh atau puasa.

3000 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ نُوَافِي هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ، أَنْ يُهِلَّ بِعُمْرَةٍ، فَلْيُهْلِلْ، فَلَوْلَا أَنِّي أَهْدَيْتُ، لَأَهْلَلْتُ بِعُمْرَةٍ» قَالَتْ: فَكَانَ مِنَ الْقَوْمِ مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ، فَكُنْتُ أَنَا مِمَّنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ، قَالَتْ: فَخَرَجْنَا حَتَّى قَدِمْنَا مَكَّةَ، فَأَدْرَكَنِي يَوْمُ عَرَفَةَ، وَأَنَا حَائِضٌ، لَمْ أَحِلَّ مِنْ عُمْرَتِي، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «دَعِي عُمْرَتَكِ، وَانْقُضِي رَأْسَكِ، وَامْتَشِطِي، وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ» قَالَتْ: فَفَعَلْتُ، فَلَمَّا كَانَتْ لَيْلَةُ الْحَصْبَةِ، وَقَدْ قَضَى اللَّهُ حَجَّنَا، أَرْسَلَ مَعِي عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ، فَأَرْدَفَنِي وَخَرَجَ إِلَى التَّنْعِيمِ، فَأَحْلَلْتُ بِعُمْرَةٍ، فَقَضَى اللَّهُ حَجَّنَا وَعُمْرَتَنَا، وَلَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ هَدْيٌ، وَلَا صَدَقَةٌ، وَلَا صَوْمٌ
__________
[حكم الألباني] صحيح

… Aisyah meriwayatkan: Saya bersama Rasulillah SAW keluar pada haji wada’, saya menjumpai tanggal bulan Dhul-Hijjah.

Maka Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa diantara kalian mengendaki ihram untuk umrah, maka lukarlah. Maka seandainya saya tidak membawa hadiyah niscaya saya ihram untuk umrah”.

Aisyah berkata: “Maka ada sebagian dari kaum orang yang ihram untuk umrah. Dan sebagian mereka ihram untuk haji. Maka saya termasuk yang ihram untuk umrah”. Aisyah bercerita: “Maka kami berangkat hingga sampai Mekah. Maka aku sampai pada hari Arofah dan saya sedang haid, saya tidak lukar untuk umrah. Maka saya melaporkan masalah tersebut pada Nabi SAW, maka Nabi bersabda: “Tinggalkanlah umrahmu, cukurlah rambutmu, besisirlah dan ihramlah untuk haji”.

Aisyah menceritakan: “Maka aku mengerjakan. Maka ketika malam hari di Hasbah, dan Allah telah menghukumi selesai hajiku, Maka Nabi mengutus bersamaku Abdarahman bin Abu Bakar, maka (Abdarahaman) memboncengku keluar ke Tan’im maka aku lukar untuk umrah. Maka Allah menyempurnakan Haji dan umrahku, dan tidak ada dalam demikian itu hadiyah dan tidak ada shodakoh dan tidak ada puasa.

[Hadist Sunan Ibni Majah No. 3000 Kitabu Manasik]

 

Tata-cara Ibadah Haji Ifrod

Tata-cara rangkaian praktek ibadah haji Ifrod adalah sebagai berikut:

  1. Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dhul-Hijjah) mulai mengerjakan haji dengan:
    • Mandi seperti mandi jinabat.
    • Memakai pakaian ihram
    • Shalat sunah 2 rakaat di miqat.
    • Membaca niat haji (niat untuk haji saja) , contoh لَبَّيكَ اللهُمَّ حَجًّا
  2. Tanggal 8 Dhul-Hijjah berangkat menuju ke Arafah untuk mengerjakan wukuf. Dalam perjalanan terus melafadkan talbiyah dengan suara keras.
    Bacaan Talbiyah:

    «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ، لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»
  3. Tanggal 9 Dhul-Hijjah, wukuf di Arafah mulai waktu matahari condong ke barat sampai matahari terbenam. Shalat dhuhur dan asar dikerjakan dengan qasar jama’ taqdim.
    3010 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَيَّاشٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ، فَقَالَ: «هَذَا الْمَوْقِفُ، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ»
    __________
    [حكم الألباني] صحيح

    … Ali meriwayatkan: Rasulullah SAW wukuf di Arofah. Maja beliau bersabda: “Ini adalah Arafah. Dan Arafah semuanya adalah tempat wukuf”.

    [Hadist Sunan Ibnu Majah No. 3010 Kitabu Manasik Babul Wuqufi bil-‘Arafah]


    3015 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَطَاءٍ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَعْمَرَ الدِّيلِيَّ، قَالَ: شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ، وَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الْحَجُّ؟ قَالَ: «الْحَجُّ عَرَفَةُ، فَمَنْ جَاءَ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، لَيْلَةَ جَمْعٍ، فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ، أَيَّامُ مِنًى ثَلَاثَةٌ، فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ، فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَمَنْ تَأَخَّرَ، فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَرْدَفَ رَجُلًا خَلْفَهُ، فَجَعَلَ يُنَادِي بِهِنَّ» … الحدث
    [حكم الألباني] صحيح

     
    Selama wuquf memperbanyak doa berikut:

    «اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كَالَّذِي نَقُولُ وَخَيْرًا مِمَّا نَقُولُ، اللَّهُمَّ لَكَ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي، وَإِلَيْكَ مَآبِي، وَلَكَ رَبِّ تُرَاثِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَوَسْوَسَةِ الصَّدْرِ وَشَتَاتِ الأَمْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَجِيءُ بِهِ الرِّيحُ»
    [Hadist Sunan Termidhi No. 3520 Kitabu Da’awat]
  4. Sore hari setelah matahari terbenam tanggal 9 Dhul-Hijjah meninggalkan padang Arofah menuju Muzdalifah. Selama di perjalanan memperbanyak membaca talbiyah atau takbir.
  5. Bermalam di Muzdalifa pada malam tanggal 10 Dhul-Hijjah.
    Amalan yang dikerjakan di Muzdalifa:

    1. Shalat Maghrib dan isha’ qosor jama’ ta’khir
    2. Mencari kerikil untuk bekal melempar jumroh besok harinya
    3. Bermalam (Mabit)
    4. Shalat subuh lalu berhenti sebentar untuk berdoa, sampai agak terang.
    5. Pagi hari sebelum matahari tebit meninggalkan Muzdalifah berangkat menuju Mina dengan terus-menerus membaca talbiyah atau takbir.
  6. 10 Dhul-Hijjah adalah puncak haji. Ada tiga amalan pada Yaumu-Nahr itu di Mina; lempar jumrah aqobah, menyembelih dam/qurban, cukur gundul

    10 Dhul-Hijjah adalah puncak haji. Ada tiga amalan pada Yaumu-Nahr itu di Mina; lempar jumrah aqobah, menyembelih dam/qurban, dan cukur gundul. Setelah itu jamaah lukar dan semua larangan ihram menjadi halal, kecuali menjima’ istri belum boleh.

  7. Amalan di Mina:
    1. Pada waktu dhuha melempar jumrah aqobah tanggal 10 Dhul-Hijjah. Tata cara melempar jumroh sebagai berikut:
      • Arah Baitullah di sebelah kiri dan Mina (tempat mabit) disebelah kanan.
      • Melempar tugu jamarat sampai kena sebanyak 7 (tujuh) kali. Lemparan yang meleset / tidak kena tidak dihitung.
      • Membaca takbir pada saat akan melempar atau bersamaan dengan kerikil yang dilemparkan atau sesudah batu mengenai tugu jamarat.
    2. Menyembelih qurban (bukan dam atau bukan hadiyah) bagi yang berqurban. Dalam haji Ifrod jamaah tidak dikenai dam apapun, hadiyah atau puasa.
    3. Cukur gundul / menggunting rambut kepala.
    4. Lukar dan semua larangan ihram sudah halal kecuali menjima’ istri.
  8. Tawaf Ifadhoh, boleh ditunda bagi yang berhalangan namun tidak boleh berhubungan badan suami istri sebelum tawaf ifadhoh.
  9. Pada malam tanggal 11, 12 dan 13 Dhul-Hijjah bermalam / mabit di Mina dan siang harinya, melempar jumroh Ula – Wustho – Aqobah. Waktu melempar mulai matahari condong ke barat sampai sebelum terbenam.
     
    Bagi jamaah yang nafar awal amalan mabit di Mina dan melempar 3 jumrah cukup sampai tanggal 12 Dhul-Hijjah. Sebelum matahari terbenam harus sudah meninggalkan Mina.
  10. Mengerjakan umrah di luar bulan haji dari miqot Tan’im. Praktek umrah bisa dilihat pada artikel tentang Umrah.
     
    Bagi yang mengerjakan umrah setelah haji, maka yang nafar awal umrahnya bisa dimulai pada malam tanggal 13 Dhul-Hijjah. Bagi yang nafar akhir umrahnya bisa dimulai malam tanggal 14 Dhul-Hijjah.
  11. Menjelang pulang mengerjakan tawaf wada’ (tawaf perpisahan)

 
 

Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s