Kemurahan Lempar Jumrah Aqobah Malam Hari Bagi Jamaah yang Lemah

(LDII) Lempar Jumrah AqobahPuncak dari ibadah haji adalah melempar jumrah aqobah di Mina pada tanggal 10 Dhul-Hijja. Setelah selesai melempar jumrah aqobah jamaah sudah lukar / tahalul yang berarti semua larangan ihram menjadi halal, kecuali menjima’ istri belum boleh. Setelah itu jamaah cukur gundul rambut kepala dan menyembelih dam atau qurban. Pada Yaumunahr itu jamaah juga berhenti membaca talbiyah.

Ketentuan-ketentuan dalam melempar jumrah aqobah menurut syariat antara lain:

  1. berangkat ke Mina dari Muzdalifa setelah subuh sebelum matahari terbit dan,
  2. melempar jumrah aqobah pada waktu dhuha.

Namun demikian Rasulullah SAW memberikan izin bagi jamaah yang lemah, seperti; wanita, anak-anak dan orang yang sudah tua untuk berangkat ke Mina lebih awal dan melempar jumrah sebelum waktu dhuha atau malam hari. Sedangkan jamaah yang masih kuat fisiknya tetap di wajibkan untuk melempar jumrah aqobah pada waktu dhuha.

314 – (1299) وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ، وَابْنُ إِدْرِيسَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: «رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى، وَأَمَّا بَعْدُ فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ»

… dari Jabir meriwayatkan: Rasulullah SAW melempar Jumrah pada Hari Menyembelih pada waktu dhuha, adapun setelah itu ketika matahari condong ke barat.

[Hadist Shohih Muslim No. 314 (1299) Kitabul Haji]

 

3027 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ، كَانَتِ امْرَأَةً ثَبْطَةً، فَاسْتَأْذَنَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَدْفَعَ مِنْ جَمْعٍ، قَبْلَ دَفْعَةِ النَّاسِ، «فَأَذِنَ لَهَا»
__________
[حكم الألباني] صحيح

… sesungguhnya Saudah binta Zam’ah, istrinya Tsabthoh, ia minta izin kepada Rsulullah SAW untuk berangkat dari Jam’in (Muzdalifa) sebelum berangkatnya manusia, maka Nabi mengizini.

[Hadist Ibni Majah No. 3027 Kitabu Manasik]

 

1679 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ، مَوْلَى أَسْمَاءَ، عَنْ أَسْمَاءَ: أَنَّهَا نَزَلَتْ لَيْلَةَ جَمْعٍ عِنْدَ المُزْدَلِفَةِ، فَقَامَتْ تُصَلِّي، فَصَلَّتْ سَاعَةً ثُمَّ قَالَتْ: «يَا بُنَيَّ، هَلْ غَابَ القَمَرُ؟» ، قُلْتُ: لاَ، فَصَلَّتْ سَاعَةً ثُمَّ قَالَتْ: «يَا بُنَيَّ هَلْ غَابَ القَمَرُ؟» ، قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَتْ: «فَارْتَحِلُوا» ، فَارْتَحَلْنَا وَمَضَيْنَا، حَتَّى رَمَتِ الجَمْرَةَ، ثُمَّ رَجَعَتْ فَصَلَّتِ الصُّبْحَ فِي مَنْزِلِهَا، فَقُلْتُ لَهَا: يَا هَنْتَاهُ مَا أُرَانَا إِلَّا قَدْ غَلَّسْنَا، قَالَتْ: «يَا بُنَيَّ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لِلظُّعُنِ»

… Abdullah mantan budaknya ‘Asma’ meriwayatkan dari ‘Asma’: Sesungguhnya ‘Asma’ bertempat di Jam’in dekat Muzdalifa pada malam hari, maka ‘Asma’ berdiri shalat satu waktu shalat kemudian ia bertanya: “Wahai anakku, apakah rembulan telah terbenam?

Saya menjawab: “Belum”.

Maka ia shalat satu saat, kemudian bertanya lagi: “Apakah rembulan telah terbenam?.

Saya menjawab: “Sudah”.

‘Asma’ berkata: “Berangkatlah”.

Maka kami berangkat dan kami terus sehingga sampai melempar jumrah kemudian kami kembali maka kami shalat subuh di tempatnya semula.

Maka saya bertanya padanya: “Wahai perempuan, saya tidak diperlihatkan kecuali masih remang-remang”.

Asma’ menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya Rasulullah SAW telah memberi izin pada wanita yang naik kereta onta”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 1679 Kitabul Haji]

 
 

Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s