Hukum Wasiat dan Waris Dalam Islam

(LDII) Wasiat dan WarisHadist Sunan Termizi No. 2117 Kitabul Washoya meriwayatkan sepasang suami istri yang selama hidupnya (60 tahun) bertaqwa kepada Allah namun ketika meninggal dunia mereka berdua masuk neraka karena pada akhir hayatnya mereka meninggalkan wasiat yang keliru kepada ahli warisnya.

Ini peringatan bagi kaum Muslimin pentingnya mengkaji dan memahami syariat Islam tentang wasiat dan waris agar tidak melanggar dari ketentuan Allah dan Rasulullah s.a.w.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 180-182, Allah Ta’ala mewajibkan orang-orang yang bertaqwa agar meninggalkan wasiat yang bagus (benar menurut ketentuan Allah dan Rasulullah s.a.w.). Bagi orang yang mendengarkan wasiat hendaknya menetapi wasiat itu sebab mengganti wasiat yang ia telah mendengarkannya adalah dosa. Sedangkan merubah wasiat yang menyimpang (tidak sesuai ketentuan syariat) itu diperbolehkan alias tidak berdosa.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (180) فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (181) فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (182)

Diwajibkan atas kamu sekalian ketika menimpa salah seorang kamu sekalian mati agar meninggalkan wasiat yang baik untuk kedua orang tua dan kerabat dengan bagus wajib atas orang yang bertaqwa.

Barang siapa mengganti wasiat setelah apa-apa yang ia mendengarkan maka sesungguhnya dosanya atas orang-orang yang menganti wasiat sesungguhnya Allah maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Barang siapa kuatir dari wasiat yang menyimpang atau dosa maka membagusi antara mereka maka tidak dosa baginya sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

[Surah Al-Baqarah ayat 180 – 182]



Berdasarkan tuntunan Allah dan Rasulullah s.a.w dalam Quran dan Al-Hadist beberapa ketentuan wasiat dan waris antara lain:

  1. Wasiat adalah perintah orang yang akan meninggal dunia untuk mensedekahkan sebagian harta kekayaannya ke sabilillah (untuk kepentingan agama), yang jumlahnya tidak boleh lebih dari 1/3 (sepertiga) jumlah total kekayaan si mayit
  2. 5 – (1628) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: عَادَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بَلَغَنِي مَا تَرَى مِنَ الْوَجَعِ، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ: «لَا» ، قَالَ: قُلْتُ: أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ؟ قَالَ: «لَا، الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ [ص:1251]، إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ، وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ، إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا، حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ» ، … الحدث

    … dari ‘Amir bin Sa’id dari ayahnya, Ayah meriwayatkan: Rasulullah s.a.w. membesukku pada haji wada’ dari sakitku yang hampir saja aku mati,

    maka aku mengatakan: “Wahai Rasulullah engkau datang padaku untuk melihat sakitku dan saya memiliki beberapa harta dan tidak mewaris padaku kecuali satu orang anak perempuanku, bagaimana apabila saya shodakohkan dua per tiga hartaku?

    Nabi menjawab: “Jangan”

    Ayah berkata: Aku katakan: “Bagaimana kalau aku shodakoh separoh?”

    Nabi menjawab: “Jangan, sepertiga saja, sepertiga dari hartamu itu sudah banyak, sesungguhnya engkau jika meninggalkan ahli warismu keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkannya kondisi miskin dan minta-minta pada manusia. Dan tidaklah engkau memberi nafkah dengan niat mencari wajah Allah kecuali dibalas dengan nafkah itu sehingga menjadikan nafkah tersebut dalam mulut istrimu… al-hadist

    [Hadist Shohih Muslim No. 5 – (1628) Kitabu Kitabul Hibat]
  3. Tidak dibenarkan mewasiatkan, membagi-bagikan hartanya kepada ahli waris
  4. Bagian ahli waris sudah ditentukan menurut Ilmu Faroid.

    كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَ2713 – حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُرَحْبِيلُ بْنُ مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ عَامَ حِجَّةِ الْوَدَاعِ «إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ»
    __________
    [حكم الألباني] صحيح

    … Syurahbil bin Muslim Al-Khaulaani berkat: Saya mendengar Aba Amamah Al-Bahili berkata: Saya mendenganRasulallah s.a.w. bersabda dalam khutbah pada tahun haji wada’: “Sesungguhnya Allah sungguh-sungguh memberikan haknya setiap yang memilik hak, maka jangan berwasiat kepada ahli waris”.

    [Hadist Ibni Majah No. 2713 Kitabul Washoya]

     

  5. Wasiat dan waris diperhitungkan setelah hutang-hutang si mayit dilunasi.
  6. Surah An-Nisa’ ayat 12 mengisyaratkan bahwa pembagian harta waris adalah setelah wasiat dan membayar hutang. Berdasarkan ayat tersebut, kewajiban utama seorang yang telah meninggal dunia adalah melunasi hutang-hutangnya. Baru setelah itu sebagian sisa hartanya diwasiatkan ke sabilillah kemudian sisanya lagi dibagi diantara ahli waris sesuai dengan perhitungan ilmu faroid.

    2715 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: «قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالدَّيْنِ قَبْلَ الْوَصِيَّةِ، وَأَنْتُمْ تَقْرَءُونَهَا» : مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ، «وَإِنَّ أَعْيَانَ بَنِي الْأُمِّ لَيَتَوَارَثُونَ دُونَ بَنِي الْعَلَّاتِ»
    __________
    [حكم الألباني] حسن

    … dari Ali meriwayatkan: Rasulullah s.a.w. mewajibkan membayar hutang sebelum wasiat, dan kalian telah membaca ayat: مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ (dari setelah wasiat yang mereka wasiatkan dengannya atau membayar hutang).

    [Hadist Sunan Ibni Majah No. 2715 Kitabul Washoya]

     

  7. Sebuah wasiat harus ditulis dan wasiat seseorang boleh ia ubah sebelum meninggal dunia
  8. 2738 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ» تَابَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    … dari Abdullah bin Umar r.a.: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak benar seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang di dalmnya ia wasiatkan, paling lama dua malam, kecuali wasiatnya itu ditulis disisinya”.
    [Hadist shohih Bukhari No. 2738 Kitabul Washoya]

     

    12654 – أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْفَقِيهُ , أنا عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ الْحَافِظُ , ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ , ثنا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , ثنا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو , ثنا أَبُو إِسْحَاقَ , عَنِ ابْنِ عَوْنٍ , عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: ” لِيَكْتُبِ الرَّجُلُ فِي وَصِيَّتِهِ: إِنْ حَدَثَ بِي حَدَثُ مَوْتِي قَبْلَ أَنْ أُغَيِّرَ وَصِيَّتِي هَذِهِ ” وَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: يُغَيِّرُ الرَّجُلُ مَا شَاءَ مِنَ الْوَصِيَّةِ * السنن الكبرى البيهقي

    … dari Aisah r.a. meriwayatkan: “Seorang laki-laki hendaknya menulis wasiatnya: Jika menimpa padaku kematian sebelum saya menganti dan wasiat inilah (yang berlaku).”

    Dan diriwayatkan dari Umar bin Khatab r.a., sesungguhnya Umar berkata: Seorang laki-laki boleh mengganti apa-apa yang ia kehendaki dari wasiatnya.

    [Hadist Sunan Al-Kabiri Al-Baihaqi No. 12654 Kitabul Washoya]

     

    2117 – حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الجَهْضَمِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الوَارِثِ قَالَ: حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، وَهُوَ جَدُّ هَذَا النَّصْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَشْعَثُ بْنُ جَابِرٍ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ حَدَّثَهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ وَالمَرْأَةُ بِطَاعَةِ اللَّهِ سِتِّينَ سَنَةً ثُمَّ يَحْضُرُهُمَا المَوْتُ فَيُضَارَّانِ فِي الوَصِيَّةِ فَتَجِبُ لَهُمَا النَّارُ» ، ثُمَّ قَرَأَ عَلَيَّ أَبُو هُرَيْرَةَ: {مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ} [النساء: 12]ـ إِلَى قَوْلِهِ ـ {ذَلِكَ الفَوْزُ العَظِيمُ} [المائدة: 119] : [ص:432] هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ، وَنَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الَّذِي رَوَى عَنِ الأَشْعَثِ بْنِ جَابِرٍ هُوَ جَدُّ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ الجَهْضَمِيِّ
    [Hadist Sunan Termizi No. 2117 Kitabul Washoya]
    Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s