Menangisi Orang Mati

LDII - Menangisi Orang Mati - Matinya seseorang merupakan salah satu qodar Allah. Kapan, dimana, dan usia berapa seseorang meninggal dunia telah ditetapkan pada waktunya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menghadapi cobaan ditinggal mati anggota keluarga, tidak ada jalan terbaik kecuali bersabar dan mengharap ridho Allah.

Dalam Islam, bersedih dan menangisi orang mati adalah hal yang wajar dan diperbolehkan selagi tidak berlebih-lebihan. Menangisi anggota keluarga yang meninggal dunia merupakan ekspresi kasih sayang seseorang pada almarhum.

Termasuk menangisi jenazah secara berlebih-lebihan, yaitu:

  1. Menangis dengan suara keras/berteriak-teriak/meraung-raung, memukul-mukul wajah, menyobek-nyobek baju dan berbagai ekspresi penyesalan yang berlebihan dan perbuatan lain sebagai bentuk tidak terima dengan qodar Allah.
  2. Menjadikan ’menangisi mayat’ sebagai tradisi. Berkeyakinan bahwa semakin banyak ditangisi orang maka jenazah dianggap sebagai orang baik, dan bisa mengangkat derajat si mayit di akhirat. Dengan keyakinan ini timbul budaya arisan menangisi orang mati dan membayar orang lain untuk menangisi anggota keluarga yang mati.


Orang atau golongan yang menjadikan menangisi mayit sebagai adat kebiasaan justru membuat mereka disiksa di kubur. Orang mati yang ditangisi keluarganya secara berlebihan sebagai pertanda bahwa si mayit adalah orang durhaka yang disiksa dalam kuburnya.

1002 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ…
__________
[حكم الألباني] : صحيح

… Umar bin Khatab meriwayatkan: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Mayit disiksa sebab tangisan keluarganya”.
[Hadist Termidzi No. 1002 Kitabul Janaiz]
 
Seseorang yang mati, ditangisi atau tidak, sama sekali tidak mempengaruhi kedudukannya di akhirat. Derajat manusia di akhirat ditentukan keimanan dan pengamalannya sendiri selama hidup di dunia. Apabila menangisi mayat bukan sebagai kebiasaan, maka sebagaimana Aisyah r.a. berkata: “Seseorang tidak menanggung dosa orang lain”, [Surah Al-Anam ayat 164]. Artinya seseorang disiksa dalam kubur bukan karena tengisan keluarganya.

فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْ سُنَّتِهِ، فَهُوَ كَمَا قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: {لاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى} [الأنعام: 164]

1284 – حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، وَمُحَمَّدٌ، قَالاَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: أَرْسَلَتِ ابْنَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِ إِنَّ ابْنًا لِي قُبِضَ، فَأْتِنَا، فَأَرْسَلَ يُقْرِئُ السَّلاَمَ، وَيَقُولُ: «إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَلْتَصْبِرْ، وَلْتَحْتَسِبْ» ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيْهِ لَيَأْتِيَنَّهَا، فَقَامَ وَمَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ، وَمَعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَرِجَالٌ، فَرُفِعَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّبِيُّ وَنَفْسُهُ تَتَقَعْقَعُ – قَالَ: حَسِبْتُهُ أَنَّهُ قَالَ كَأَنَّهَا شَنٌّ – فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هَذَا؟ فَقَالَ: «هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ»

… Usamah bin Zaid meriwayatkan: Putri Nabi s.a.w. (Zaenab) meminta aku datang pada Nabi mengabarkan bahwa cucunya sedang sekarat, mohon agar beliau (Nabi) datang pada kami.

Maka Nabi hanya menitipkan salam dan bersabda: “Seseungguhnya semua yang diambil adalah milik Allah, dan apa-apa yang diberikan milik Allah, dan segala sesuatu di sisi Allah telah ditetapkan temponya, maka bersabar dan mohon pahalaNya.

Kembali Zaenab menyuruhku kepada Nabi dengan bersumpah agar beliau datang pada Zaenab. Maka Nabi berdiri bersama-sama dengan Said bin Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Stabit dan beberapa orang laki-laki.

Sang bayi diangkatkan pada Rasulillah s.a.w. dan nafasnya sangat lemah. Abi Usman mengatakan: Saya menduga Said berbicara: “Bayi itu seperti girabah (tidak berdaya)”. Maka menetes air mata dari kedua mata beliau”.

Said bertanya: “Wahai Rasulullah, Kenapa engkau ini?”

Nabi menjawab: “Menangis adalah rahmat yang Allah letakkan dalam hati hambanya, sesungguhnya Allah menyayangi hambanya yang memilki rasa kasih sayang”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 1284 Kitabul Janaiz]
 

1297 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»

… seungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: “Bukanlah golonganku, orang-orang yang memukul-mukul pipinya, dan merobek-robek bajunya, mengucap ucapan jahiliyah”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 1297 Kitabul Janaiz]
 

Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s