Suami Mati

LDII - Iddah Janda Mati -Pada masa jahiliyah seorang istri yang ditinggal mati suaminya melakukan belasungkawa selama satu tahun tidak keluar rumah dengan memakai baju paling jelek dan melumuri tubuhnya dengan kotoran hewan. Pada mulanya, Islam juga menerapkan masa berkabung bagi janda mati selama satu tahun. Selama masa berkabung itu tidak boleh keluar dari rumah mantan suaminya dan mendapat nafkah selama satu tahun dari harta peninggalan suami. Namun jika menghendaki, si janda diperbolehkan menjalani masa berkabung di luar rumah suaminya dengan syarat hak nafkahnya hilang.

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (240)

Laki-laki yang wafat diantara kalian dan meninggalkan beberapa istri hendaknya berwasiat pada istri-istri nya dengan nafkah salama satu tahun selagi tidak keluar rumah. Jika para istri itu keluar maka tidak dosa atas kalian (wali) atas perbuatan baik yang para mantan istri lakukan dan Allah Maha Mulya dan Maha Menghukumi.
[Surah Al-Baqoroh ayat 240]

Setelah turun ayat waris yang mengharuskan harta waris segera dibagi maka ayat 240 Surah Al-Baqoroh itu dimansuh (diganti) dengan ayat 234 yang mewajibkan seorang janda mati untuk menjalani masa belasungkawa atau iddah selama empat bulan sepuluh hari. Selama masa iddah itu seorang janda tidak boleh berdandan  memakai make-up dan wangi-wangian sedikitpun. Juga tidak boleh menerima lamaran lebih-lebih menikah lagi.

Waktu empat bulan sepuluh hari itu merupakan masa tenggat untuk mengetahui apakah si janda itu hamil atau tidak sehingga bila ia menikah lagi dan hamil bisa dipastikan siapakah ayah biologis janin yang dikandungnya. Sedangkan seorang istri yang ditinggal mati suaminya keadaan hamil maka masa iddahnya ada dua pilihan yaitu: empat bulan sepuluh hari atau saat bayinya lahir, dipilih mana yang lebih dahulu.

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (234)

Laki-laki yang wafat diantara kalian dan meninggalkan beberapa istri hendaknya para istri menahan diri mereka selama empat bulan sepuluh hari maka ketika sampai temponya, tidak dosa atas kalian (wali) terhadap apa apa yang para mantan istri lakukan sebagaimana mestinya dan Allah Maha Mulya dan Maha Menghukumi.
[Surah Al-Baqoroh ayat 234]
 

… وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (4)

Dan para wanita yang sedang hamil masa iddahnya bahwa jika melahirkan kandungannya, barang siapa bertaqwa kepada Allah dijadikan baginya perkaranya mudah.
[Surah At-Tholaq ayat 4]
 

4909 – حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ جَالِسٌ عِنْدَهُ، فَقَالَ: أَفْتِنِي فِي امْرَأَةٍ وَلَدَتْ بَعْدَ زَوْجِهَا بِأَرْبَعِينَ لَيْلَةً؟ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: آخِرُ الأَجَلَيْنِ، قُلْتُ أَنَا: {وَأُولاَتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ} [الطلاق: 4] ، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَنَا مَعَ ابْنِ أَخِي – يَعْنِي أَبَا سَلَمَةَ – فَأَرْسَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ غُلاَمَهُ كُرَيْبًا إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ يَسْأَلُهَا، فَقَالَتْ: «قُتِلَ زَوْجُ سُبَيْعَةَ الأَسْلَمِيَّةِ وَهِيَ حُبْلَى، فَوَضَعَتْ [ص:156] بَعْدَ مَوْتِهِ بِأَرْبَعِينَ لَيْلَةً، فَخُطِبَتْ فَأَنْكَحَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ أَبُو السَّنَابِلِ فِيمَنْ خَطَبَهَا» ،

… Abu Salamah meriwayatkan: Seorang laki-laki datang pada Ibnu Abas dan Abu Hurairah duduk di sampingnya, Rajul bertanya: “Ceritakan padaku tentang seorang perempuan yang melahirkan setelah empat puluh hari suaminya wafat?”.

Ibnu Abas menjawab: “Salah satu dari dua iddah yang paling akhir”.

Aku berkata: {وَأُولاَتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ} [الطلاق: 4]
Abu Hurairah mengatakan: “Saya bersama keponakanku – yaitu Aba Salamah – maka Ibnu Abas mengutus budaknya Kuraib ke Umi Salamah untuk bertanya.

Maka Ummi salamah menjelaskan: “Suami Subai’ah mati dan dia sedang hamil, kemudian melahirkan pada empat puluh hari setelah kematian suaminya. Kemudian Subai’ah dilamar dan Rasulullah s.a.w. menikahkan mereka. Abu Sanabil pria yang melamar itu”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 4909 Kitabu Tafsir Qur’an]

 

3990 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، ذُكِرَ لَهُ: أَنَّ سَعِيدَ بْنَ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ، وَكَانَ بَدْرِيًّا، مَرِضَ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ، فَرَكِبَ إِلَيْهِ بَعْدَ أَنْ تَعَالَى النَّهَارُ، وَاقْتَرَبَتِ الجُمُعَةُ، وَتَرَكَ الجُمُعَةَ،

… diceritakan bahwa Said bin Zaid bin Amri bin Nufail adalah seorang veteran perang Badar, sakit pada hari Jum’at, maka ia naik kendaraan setelah tengah hari, dan shalat Jum’at telah mepet, dan ia ketinggalan shalat Jum’at.

3991 – وَقَالَ اللَّيْثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، أَنَّ أَبَاهُ كَتَبَ إِلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَرْقَمِ الزُّهْرِيِّ: يَأْمُرُهُ أَنْ يَدْخُلَ عَلَى سُبَيْعَةَ بِنْتِ الحَارِثِ الأَسْلَمِيَّةِ، فَيَسْأَلَهَا عَنْ حَدِيثِهَا، وَعَنْ مَا قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ اسْتَفْتَتْهُ. فَكَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَرْقَمِ، إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، يُخْبِرُهُ أَنَّ سُبَيْعَةَ بِنْتَ الحَارِثِ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ سَعْدِ ابْنِ خَوْلَةَ، وَهُوَ مِنْ بَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ، وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا، فَتُوُفِّيَ عَنْهَا فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ وَهِيَ حَامِلٌ، فَلَمْ تَنْشَبْ أَنْ وَضَعَتْ حَمْلَهَا بَعْدَ وَفَاتِهِ، فَلَمَّا تَعَلَّتْ مِنْ نِفَاسِهَا، تَجَمَّلَتْ لِلْخُطَّابِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا أَبُو السَّنَابِلِ بْنُ بَعْكَكٍ، رَجُلٌ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ، فَقَالَ لَهَا: مَا لِي أَرَاكِ تَجَمَّلْتِ لِلْخُطَّابِ، تُرَجِّينَ النِّكَاحَ؟ فَإِنَّكِ وَاللَّهِ مَا أَنْتِ بِنَاكِحٍ حَتَّى تَمُرَّ عَلَيْكِ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ، قَالَتْ سُبَيْعَةُ: فَلَمَّا قَالَ لِي ذَلِكَ جَمَعْتُ عَلَيَّ ثِيَابِي حِينَ أَمْسَيْتُ، وَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ «فَأَفْتَانِي بِأَنِّي قَدْ حَلَلْتُ حِينَ وَضَعْتُ حَمْلِي، وَأَمَرَنِي بِالتَّزَوُّجِ إِنْ بَدَا لِي» تَابَعَهُ أَصْبَغُ، عَنْ ابْنِ وَهْبٍ، عَنْ يُونُسَ، وَقَالَ اللَّيْثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ وَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، مَوْلَى بَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ إِيَاسِ بْنِ البُكَيْرِ وَكَانَ أَبُوهُ شَهِدَ بَدْرًا، أَخْبَرَهُ

… Umar bin Abdillah bin Arqom mengirimi surat Abdillah bin ‘Utbah mengabarkan: Sesungguhnya Subai’ah binta Al-Harsa bercerita: Dia (Subai’ah adalah istri dari Said bin Haulah, Said adalah berasal dari Bani Amir bin Luayi, seorang veteran perang Badar.

Said meninggal dunia dalam haji wada’ sedangkan Subai’ah sedang hamil. Maka tidak lama setelah kematian suaminya Subai’ah melahirkan. Ketika selesai nifasnya Subai’ah berdandan untuk orang yang melamarnya.

Maka Abu Sanabil bin Ba’kak seorang laki-laki dari Bani Abdiddar bertamu pada Subai’ah. Abu Sanabil bertanya pada Subai’ah: “Kenapa saya lihat kamu berdandan untuk menerima lamaran? Apakah engkau ingin menikah? Demi Allah Sesungguhnya engkau tidak boleh menikah sebelum lewat empat bulan sepuluh hari”.

Subai’ah menjawab: “Ketika Abi Sanabil bertanya seperti itu aku mengemasi pakaianku dan aku datang bertanya pada Rasulalloh s.a.w. masalah itu. Maka Nabi memberi fatwa padaku bahwa aku sungguh-sungguh halal (menikah lagi) ketika melahirkan kandungan, dan beliau memerintahkan menikah lagi jika aku menginginkan”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 3991 Kitabul Maghozi]

5338 – حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ نَافِعٍ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنْ أُمِّهَا، أَنَّ امْرَأَةً تُوُفِّيَ زَوْجُهَا، فَخَشُوا عَلَى عَيْنَيْهَا، فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنُوهُ فِي الكُحْلِ، فَقَالَ: «لاَ تَكَحَّلْ، قَدْ كَانَتْ إِحْدَاكُنَّ تَمْكُثُ فِي شَرِّ أَحْلاَسِهَا أَوْ شَرِّ بَيْتِهَا، فَإِذَا كَانَ حَوْلٌ فَمَرَّ كَلْبٌ رَمَتْ بِبَعَرَةٍ، فَلاَ حَتَّى تَمْضِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ» ،

… Zaenab binti Ummi Salamah meriwayatkan dari Ibunya, sesungguhnya seorang istri mati suaminya, ia menguatirkan kedua matanya, maka wanita itu datang pada Rasulalloh s.a.w. minta izin untuk memakai celak, maka Nabi menjawab: “Jangan memakai celak sungguh-sungguh dahulu wanita berduka didalam kamar yang jelek atau rumah terjelek, ketika telah satu tahun ada anjing lewat mereka melumuri badannya dengna tahi hewan, maka jangan pakai celak sampai tiba empat bulan sepuluh hari”.

5339 – وَسَمِعْتُ زَيْنَبَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ، تُحَدِّثُ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ، إِلَّا عَلَى زَوْجِهَا أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا»

… sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: “Tidak halal bagi wanita Muslimah yang beriman pada Allah dan hari akhir jika berduka lebih dari tiga hari, kecuali atas suami mereka empat bulan sepuluh hari”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 5338 & 5339 Kitabutholaq]

Iklan

One response to “Suami Mati

  1. Mulyadi Mulyadi

    AJZKK, semoga menjadi amal jariyah.

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s