Dibencinya Ibadah Berlebih-lebihan

LDII - Ibadah Berlebihan - Rasulullah shalallohu alaihi wa sallam melarang umat Islam beribadah secara berlebih-lebihan. Allah tidak akan bosan memberi pahala hambanya namun Nabi kuatir justru umatnya keberatan dan lari, karena ibadah yang melebihi batas. Nabi tidak ingin menjadikan ibadah sebagai beban berat yang membosankan namun ibadah sebagai rutinitas yang ringan dan menyenangkan.

69 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا»

… Nabi s.a.w. bersabda: “Kalian memudahlah jangan mempersulit, menyenangkanlah jangan membuat mereka lari”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 69 Kitabu Ilmi]


Diantara praktek ibadah berlebih-lebihan antara lain:

  1. Beribadah terus menerus dengan mengabaikan kewajiban merawat keluarga, anak dan istri. Termasuk seorang bujang yang beribadah dengan melupakan kewajiban menikah dan mencari nafkah. Muslim yang gencar beramar ma’ruf sementara untuk makan mereka minta-minta, termasuk sikap melebihi batas.
  2. Melaksanakan ibadah melebihi ketentuan yang telah disyariatkan oleh Nabi shalallohu alaihi wasallam.
    Contoh:

    • Berpuasa setiap hari tanpa terputus, sedangkan maksimal puasa terbaik adalah puasanya Nabi Dawud, sehari puasa dan sehari mokel.
    • Beribadah sepanjang malam tanpa tidur sama sekali. Ini jelas menyalahi syariat Islam. Tuntunan Nabi adalah tidur pada awal malam dan bangun, beribadah pada 1/3 malam akhir.
  3. Meremehkan ketentuan dan syariat Nabi s.a.w. dan menganggap syariat Nabi tidak adil dan kurang sempurna.
    Contoh melebih-lebihkan ibadah kategori ini adalah:

    • Seseorang shalat dengan mengulang takbiratul ihram berkali-kali karena merasa kurang mantap kalau takbir hanya sekali.
    • Mewajibkan wanita haid mengganti shalatnya setelah suci.
    • Melempar jumrah dengan batu besar padahal sunahnya dengan kerikil.
    • Menambah-nambahi ibadah tuntunan Nabi karena merasa lebih pol dengan syariat yang ditambah-tambahi dan dimodel-model.

Orang-orang yang mencela dan menganggap sunah Nabi tidak adil, hukumnya adalah keluar dari agama alias bukan orang Islam walaupun kelihatannya ibadah mereka pol. Sedangkan orang-orang yang beramal tidak didasari pada sunah Nabi maka amalannya ditolak / tidak diterima oleh Allah.

4667 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ أَبِي نُعْمٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بُعِثَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَيْءٍ فَقَسَمَهُ بَيْنَ أَرْبَعَةٍ، وَقَالَ: أَتَأَلَّفُهُمْ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: مَا عَدَلْتَ، فَقَالَ: «يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ»

… Abi Said meriwayatkan: “Sejumlah harta dikirimkan pada Nabi s.a.w. maka Nabi membagikan pada empat orang dan nabi bersabda: “Aku ingin melunakkan hati mereka (orang-orang yang diberi)”. Maka seorang rojul mencela: “Engkau (Nabi) tidak adil”. Nabi bersabda: “Akan muncul keturunan kaum ini mereka keluar dari agama!”
[Hadist Shohih Bukhari No. 4667 Kitabu Tafsir Qur’an]
 

18 – (1718) وحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، جَمِيعًا عَنْ أَبِي عَامِرٍ، قَالَ عَبْدٌ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ جَعْفَرٍ الزُّهْرِيُّ، عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: سَأَلْتُ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ، عَنْ رَجُلٍ لَهُ ثَلَاثَةُ مَسَاكِنَ، فَأَوْصَى بِثُلُثِ كُلِّ مَسْكَنٍ مِنْهَا، قَالَ: يُجْمَعُ ذَلِكَ كُلُّهُ فِي مَسْكَنٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ قَالَ: أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

… Aisah mengabari, sesungguhnya Rasulalloh s.a.w. bersabda: “Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak ada perkaraku atas amal itu maka amalan itu ditolak”.
[Hadist Shohih Muslim No. 18 – (1718) Kitabul Hudud
 

1150 – حَدَّثَنَا [ص:54] أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَارِثِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا حَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ، فَقَالَ: «مَا هَذَا الحَبْلُ؟» قَالُوا: هَذَا حَبْلٌ لِزَيْنَبَ فَإِذَا فَتَرَتْ تَعَلَّقَتْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ حُلُّوهُ لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ، فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ»

… Anas bin Malik r.a. meriwayatkan: Nabi s.a.w. masuk (ke dalam masjid). Ketika itu ada tali yang dibentangkan antara dua tiang masjid.

Nabi bertanya: “Tali apa ini?”

Para sahabat menjawab: “Tali ini milik Zaenab, ketika ia lemas maka ia berpegangan”.

Nabi bersabda: “Jangan begitu, lepaskanlah tali itu, sholatlah kalian saat semangat, kalau sudah lelah kerjakan dengan duduk”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 1150 Kitabul Jumu’ah]

 

1151 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَتْ عِنْدِي امْرَأَةٌ مِنْ بَنِي أَسَدٍ، فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قُلْتُ: فُلاَنَةُ لاَ تَنَامُ بِاللَّيْلِ، فَذُكِرَ مِنْ صَلاَتِهَا، فَقَالَ: «مَهْ عَلَيْكُمْ مَا تُطِيقُونَ مِنَ الأَعْمَالِ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا»

… Aisyah r.a. meriwayatkan: Pernah ada di sampingku seorang wanita dari Bani Asad, Ketika Rasulullah s.a.w. datang beliau bertanya: “Siapakan ini?”

Saya menjawab: “Ini si Fulanah, dia tidak pernah tidur malam hari, karena sholat”.

Nabi bersabda: “Duh, Jangan begitu, kerjakanlah amalan semampumu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan memberimu pahala tapi engkaulah yang akan bosan”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 1151 Kitabul Jumu’ah]

 

Iklan

2 responses to “Dibencinya Ibadah Berlebih-lebihan

  1. Marzuki Chairul Saleh

    alhamdulilah, jazakumullah choiro. mohon amal sholeh, boleh saya dibantu dalil-dalil tentang bahayanya kepemimpinan jika dipegang atau dipimpin oleh seorang [erempuan.  Apakah benar pendapat jika kita mengankat pemimpin itu perempuan pada dasarnya kita justru  merendahkan martabat perempuan tersebut

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s