Haramnya Hadiah Bagi Pegawai

Hadiah Buat PegawaiRasulullah s.a.w. mengajarkan kepada kaum Muslimin agar bekerja melayani masyarakat dengan jujur dan penuh dedikasi. Seorang pegawai yang menerima hadiah dari orang yang dilayani hendaknya melaporkannya kepada pimpinan dan pemakaiannya tergantung kebijakan pimpinan atau aturan setempat. Seorang pegawai tidak boleh menerima hadiah untuk dimiliki sendiri. Setiap hadiah yang diberikan kepada seorang pegawai pada hakikatnya adalah karena jabatan dan pekerjaannya.

… Abi Humaid meriwayatkan: Rasulullah s.a.w. mengangkat seorang pegawai dari wilayah Asdi bernama Ibnu Lutbiyah – ‘Amru menambhakan: dan Ibnu Abi Umar – untuk mengurusi zakat.

Ketika datang mereka mengatakan: “Ini untuk kalian, ini untukku, seseorang telah menghadiahi padaku”.

Maka Rasulullah s.a.w. berdiri di mimbar, memuji dan menyanjung pada Allah, kemudian Nabi bersabda: “Apakah kelakuan utusanku yang mengatakan: Ini untukmu dan ini hadiah untukku, coba dia duduk di rumah ayahnya atau rumah ibunya dan lihatlah apakah ada orang yang menghadiahi padanya atau tidak?”

“Demi Allah yang diriku ada dalam genggamannya, kalian tidak memperoleh hadiah suatu apapun kecuali kelak pada hari kiamat akan membawa hadiah itu di lehernya…”
[Hadist Shohih Muslim No. (1832) – 26 Kitabu Imaroh]

26 – (1832) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَعَمْرٌو النَّاقِدُ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الْأَسْدِ، يُقَالُ لَهُ: ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ – قَالَ عَمْرٌو: وَابْنُ أَبِي عُمَرَ – عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا لِي، أُهْدِيَ لِي، قَالَ: فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللهَ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَقَالَ: ” مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ، فَيَقُولُ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا أُهْدِيَ لِي، أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ، أَوْ فِي بَيْتِ أُمِّهِ، حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا؟ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَنَالُ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ “، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «اللهُمَّ، هَلْ بَلَّغْتُ؟» مَرَّتَيْنِ

Iklan

3 responses to “Haramnya Hadiah Bagi Pegawai

  1. kalau bisa hukum pernikahan bisa di kirim

  2. ulasannya bagus dan sangat bermanfaat untuk nambah keimanan terus kirim dan kalau bisa tentang pernikahan (hukumnya nikah dengan orang yang belum/tidak iman Almd Jzklh

  3. Bagaimana hukumnya,ketika si pemberi hadiah memaksa dan kita tetap menerima hadiah itu tpi hadiah itu diberikan lagi kepada orang lain.
    Jazakumullahu khoiro

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s