Gerhana Matahari

LDII - Gerhana Matahari
Gerhana matahari adalah salah satu tanda kebesaran Allah.

Gerhana jangan diartikan macam-macam, dan yang bukan-bukan.

Gerhana jangan dikaitkan dengan kematian atau kelahiran seseorang dan bukan sebagai firasat tertentu.

Ketika terjadi gerhana Rasulullah s.a.w. memerintahkan kaum Muslimin untuk shalat. bersedekah dan mohon perlindungan pada Allah.

1044 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، فَقَامَ، فَأَطَالَ القِيَامَ، ثُمَّ رَكَعَ، فَأَطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ القِيَامَ وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الأُولَى، ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا»

 
Aisyah r.a. meriwayatkan: Pada masa Rasulillah s.a.w. terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah s.a.w. ¬sholat berjamaah dengan manusia.

Nabi berdiri lama, kemudian rukuk dengan rukuk yang lama, kemudian berdiri lagi lama namun masih lama yang awal.

Kemudian Nabi rukuk kedua lamanya kurang dari rukuk pertama.

Kemudian Nabi sujud lama sekali.

Setelah itu Nabi mengerjakan rakaat kedua seperti rakaat pertama.

Kemudian Nabi bubar dan matahari mulai muncul.

Maka kemudian Nabi berkutbah pada manusia, beliau memuji pada Allah terus berkutbah:

“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua ayat (tanda kebesaran) Allah dari banyak ayat Allah.

Gerhana bukan karena matinya seseorang atau karena lahirnya seseorang.

Ketika kalian menjumpai gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah dan sholatlah dan bersedekahlah”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 1044 Kitabul Jumu’ah]
 

1065 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ نَمِرٍ، سَمِعَ ابْنَ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، ” جَهَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلاَةِ الخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ، فَإِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ كَبَّرَ، فَرَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، ثُمَّ يُعَاوِدُ القِرَاءَةَ فِي صَلاَةِ الكُسُوفِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ “

Aisyah r.a. meriwayatkan:

Nabi s.a.w. mengeraskan bacaannya dalam sholat gerhana, ketika selesai membaca beliau takbir, kemudian rukuk.

Ketika berdiri dari rukuk Nabi mengucap: “Sami’allohu liman hamidahu”

Kemudian mengulangi lagi bacaan sholat khusuf empat rukuk dalam dua rakaat dan empat sujud”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 1065 Kitabul Jumu’ah]

Iklan

4 responses to “Gerhana Matahari

  1. Assalamualaikum wr wb..
    mohon maaf mas admin..
    pada saat bangun dari ruku / i’tidal pertama,
    samiallohu liman hamidah..apakah tangan langsung sedekap..???
    atau kebawah seperti biasa..
    atau tangan kebawah, begitu imam baca alfatihah baru tangan sedekap..

    Atas jawabanya saya syukuri Alhamdulillah jazakumulloh khoiro..

  2. Postingan postingan selanjutnya ditunggu, mana Pak..

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s