Menyempurnakan Shalat

Menyempurnakan SholatSalah satu rukun Islam adalah shalat. Orang yang tidak shalat hukumnya KAFIR, pasti ke neraka.

8 – حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” * رواه البخاري كتب لإيمان

Rasulullah bersabda: ”Agama Islam di bangun atas lima perkara, bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, dan menegakkan shalat, dan membayar zakat, dan haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 8 Kitabul Iman]

463 – أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنِ الْحُسَيْنِ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمِ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ»
__________
[حكم الألباني] صحيح

…Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya janji yang membedakan antara kita (orang iman) dan mereka (orang kafir) adalah salat, barangsiapa meninggalkan salat maka sungguh-sungguh ia telah KAFIR“.
[Hadist Nasai No. 463 Kitabu Sholah]

Shalat adalah ibadah paling utama dalam Islam yang pertama kali akan dihisab oleh Allah di hari kiamat, karena itu sholat harus dilaksanakan dengan sempurna.

Diantara kesempurnaan sholat adalah KHUSU’ dan TUMA’NINA.
Khusu’ adalah konsentrasi, fokus, TIDAK melamun atau memikirkan hal-hal lain di luar sholat, bacaan shalat dibaca dengan perlahan, fasih dan mengerti serta memahami makna semua bacaan dalam sholat.

Sedangkan tuma’nina berarti tenang, anteng dan rilek dalam gerakan sholat, TIDAK terburu-buru, dan tidak bergerak-gerak selain gerakan sholat.

Orang yang sholatnya tidak tuma’nina dan asal-asalan adalah ciri-ciri orang munafiq.

195 – (622) وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، وَقُتَيْبَةُ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي دَارِهِ بِالْبَصْرَةِ، حِينَ انْصَرَفَ مِنَ الظُّهْرِ، وَدَارُهُ بِجَنْبِ الْمَسْجِدِ، فَلَمَّا دَخَلْنَا عَلَيْهِ، قَالَ: أَصَلَّيْتُمُ الْعَصْرَ؟ فَقُلْنَا لَهُ: إِنَّمَا انْصَرَفْنَا السَّاعَةَ مِنَ الظُّهْرِ، قَالَ: فَصَلُّوا الْعَصْرَ، فَقُمْنَا، فَصَلَّيْنَا، فَلَمَّا انْصَرَفْنَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»

Anas bin Malik meriwayatkan: Saya mendengar Rasulalloh s.a.w. bersabda: “Begitulah sholatnya orang munafik, mereka duduk santai mengamati matahari, sehingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk syetan, maka mereka berdiri, lalu mereka mematuk-matuk shalat empat rakaat, mereka tidak ingat kepada Allah kecuali hanya sedikit”.
[Hadist Shohih Muslim No. (622)-195 Kitabul Masajidi wa Maudhi’i Sholah]

Shalat yang tidak tuma’nina hukumnya tidak sah harus diulangi lagi sebagaimana tercantum dalam kandungan hadist Shohih Bukhari No. 757 Kitabul Adzan.

757 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ المَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَصَلَّى، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَدَّ وَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ، فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ثَلاَثًا، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ، فَعَلِّمْنِي، فَقَالَ: «إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا»

Abu Hurairah meriwayatkan, sesungguhnya Rasululah s.a.w. masuk masjid diikuti oleh seorang laki-laki, maka laki-laki itu sholat, kemudian salam pada Nabi s.a.w.

Nabi menjawab salamnya dan bersabda: “Ulangilah sholatmu, sesungguhnya engkau belum shalat”.

Maka laki-laki itu kembali sholat seperti sholatnya semula, kemudian datang dan mengucap salam pada Nabi s.a.w.

Nabi bersabda: “Ulangilah sholatmu, sesungguhnya engkau belum shalat”. Hingga tiga kali.

Laki-laki itu berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq saya tidak bisa sholat lebih baik lagi selain ini, maka ajarilah saya”.

Nabi bersabda: “Ketika engkau berdiri shalat maka takbirlah, kemudian bacalah Surat Al-Quran yang mudah bagimu, kemudian rukuklah hingga tenang rukukmu.

Kemudian berdirilah hingga tegak berdirimu, kemudian sujudlah dengan tuma’nina, kemudian bangkitlah hingga duduk dengan tuma’nina,

Lakukanlah seperti itu dalam setiap sholatmu”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 757 Kitabul Adzan]

Iklan

2 responses to “Menyempurnakan Shalat

  1. Herry Supriyanto

    Assalamualaikum Sering  kami  dapati  keterangan  dalam postingan ilmu ttg tingkat  hadits  oleh  Syekh  Albani  spt  dalam sharing  ilmu  ini, mohon  penjelasan  apakah : 1. Keilmuan  syekh  Albani  memenuhi  kriteria 3M, karena  dalam  biografi  beliau  lebih  banyak membaca buku2 hadits  di perpustakaan.Memang  benar beliau mendapatkan ijazah ammah  dari  syekh  At  Tabakh  yg  mempunyai isnad , bukan  atas kemauan  syekh Albani tapi  atas  kemauan  syekh  At  Tabakh. 2. Kurun  waktu  syekh  Albani  di  Haramain  jika  tidak  salah lebih  belakangan  drp  bapak  KH  Nurhasan. Apakah  perolehan  isnad  didapat  oleh  pakubumi  yg  dikirim belakangan? Untuk  amsol  keteranganipun  kulo  syukuri  Alhamdulillah jazakumullahu  khairan Wassalamu’alaikumHerry  TT2 Ktgede  YK3Sent from Yahoo Mail on Android

  2. Herry Supriyanto

    AssalamualaikumTelah  jelas  bagi  kami, bahwasanya  dengan  ijazah  ammah  dari  syekh  At  Thabakh  maka  keilmuan  syekh  albani  adalah  sah, begitu  pula  fatwa2nya yg  didasarkan  pada  keilmuannya  yang  sah  tsb. Ditambah  dengan  menjadi  dosen  di  universitas  Madinah spt  dinyatakan  dalam  biografinya sbb : Syaikh al-Albani rahimahullahu mendapatkan ijazah hadits ammah dari Syaikh Muhammad Raghib bin Mahmud bin Hasyim Thabakh al-Halabi rahimahullahu (1293 – 1370 H), seorang ahli sejarah dan musnid Halab di zamannya. Syaikh ath-Thabakh ini pernah menjadi dosen hadits, ushul hadits dan sejarah di Fakultas Syari’ah al-Ashriyah di Kota Halab. Derajat dan kemampuannya hanya diketahui oleh para petinggi yang mengawasi pusat-pusat kajian ilmiyah. Semua itu telah mendorong para pembimbing Universitas Islam Madinah -terutama Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Ibrahim, Rektor Universitas dan Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada saat itu- untuk menjatuhkan pilihannya kepada Syaikh Al-Albani. Beliau dipercayakan memimpin pengajaran ilmu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan fiqihnya di Universitas Islam Madinah. Al-Albani rahimahullah menetap di Madinah selama tiga tahun, bekerja sebagai dosen ilmu hadits. Ajkh. Wassalamu’alaikumSent from Yahoo Mail on Android

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s