Menuduh Istri Berselingkuh

Istri SelingkuhKetika seorang sahabat Nabi bernama Hilal bin Umayyah melaporkan istrinya telah berzina, Rasulullah sholallohu alaihi wasallam dituruni ayat:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6)

“Orang-orang yang menuduh istrinya berzina dan tidak ada saksi kecuali dirinya sendiri maka hendaklah masing-masing bersumpah empat kali sumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia termasuk orang yang sidiq”.

Surah An-Nur ayat 6 itu adalah solusi bagi seorang Muslim yang menuduh seseorang berzina tapi tidak memiliki 4 orang saksi.

Dalam ayat 4 Surah An-Nur, seorang Muslim yang menuduh zina Muslim lain tanpa bisa mendatangkan 4 orang saksi maka ia harus dijilid / didera sebanyak 80 kali.

Semasa hidup Nabi Muhammad terdapat dua kasus suami menuduh istrinya berzina dan tidak mengakui kehamilan istrinya, yaitu; sahabat ‘Uwaimir bin Asyfaro Al-Ajlani dan Hilal bin Umayyah.

Dalam kasus seorang suami yang menuduh atau mencurigai istrinya telah berzina tanpa ada saksi lain sedangkan istrinya membantah maka ada beberapa ketentuan sebagaimana dipaparkan dalam Hadist Sunan Abu Dawud Babu Filla’ana Kitabu Tholaq:

  1. Masing-masing (suami dan istri) harus bersumpah (sumpah la’ana) demi Allah sebanyak 4 kali, kemudian sumpah ke lima merupakan ancaman wajibnya siksa neraka bagi pihak yang berdusta / bohong.
  2. Keduanya dipisahkan, pernikahan mereka dibatalkan dan tidak bisa kembali lagi meskipun setelah si mantan istri dinikahi orang lain.
  3. Anak yang lahir dari tuduhan zina itu dinasabkan pada ibunya dan tidak boleh disebut anak zina sedangkan ibunya juga tidak boleh disebut pezina.
  4. Seandainya dari penelitian bayi yang dilahirkan kemudian terbukti dari hasil perselingkuhan maka si wanita tidak dikenai hukuman ranjam karena hukuman bagi orang yang telah melaksanakan sumpah la’ana sepenuhnya dipasrahkan pada Allah subhanahu wata’ala.
2245 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ أَخْبَرَهُ، أَنَّ عُوَيْمِرَ بْنَ أَشْقَرَ الْعَجْلَانِيَّ جَاءَ إِلَى عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ، فَقَالَ لَهُ: يَا عَاصِمُ أَرَأَيْتَ رَجُلًا وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا، أَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُونَهُ، أَمْ كَيْفَ يَفْعَلُ؟ سَلْ لِي يَا عَاصِمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَسَأَلَ عَاصِمٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسَائِلَ وَعَابَهَا، حَتَّى كَبُرَ عَلَى عَاصِمٍ مَا سَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَجَعَ عَاصِمٌ إِلَى أَهْلِهِ، جَاءَهُ عُوَيْمِرٌ، فَقَالَ لَهُ: يَا عَاصِمُ، مَاذَا قَالَ لَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ عَاصِمٌ: لَمْ تَأْتِنِي بِخَيْرٍ، قَدْ كَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْأَلَةَ الَّتِي سَأَلْتُهُ عَنْهَا، فَقَالَ عُوَيْمِرٌ: وَاللَّهِ لَا أَنْتَهِي حَتَّى أَسْأَلَهُ عَنْهَا، فَأَقْبَلَ عُوَيْمِرٌ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَسْطَ النَّاسِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رَجُلًا وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا أَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُونَهُ، أَمْ كَيْفَ يَفْعَلُ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَدْ أُنْزِلَ فِيكَ وَفِي صَاحِبَتِكَ قُرْآنٌ، فَاذْهَبْ فَأْتِ بِهَا» . قَالَ سَهْلٌ: فَتَلَاعَنَا وَأَنَا مَعَ النَّاسِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا فَرَغَا، قَالَ [ص:274] عُوَيْمِرٌ: كَذَبْتُ عَلَيْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَمْسَكْتُهَا، فَطَلَّقَهَا عُوَيْمِرٌ ثَلَاثًا، قَبْلَ أَنْ يَأْمُرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَكَانَتْ تِلْكَ سُنَّةُ الْمُتَلَاعِنَيْنِ،
__________
[حكم الألباني] : صحيح

Sesungguhnya ‘Uwaimir bin Ashfaro Al-Ajlaani datang pada Ashim bin Adyy mengatakan:

“Wahai Ashim bagaimanakah pendapatmu seorang suami yang memergoki istrinya bersama laki-laki lain, apakah ia harus membunuh selingkuhan itu atau berbuat apa? Tanyakanlah untukku wahai Ashim pada Rasulallohu s.a.w. perihal tersebut.”

Maka ketika Ashim bertanya pada Rasulalloh s.a.w. beliau tidak suka dengan pertanyaan itu beliaupun enggan menjawab dan tanggapan Rasulalloh s.a.w. terasa berat bagi Ashim.

Ketika Ashim kembali pada keluarganya ‘Uwaimir pun menanyakan hasil konsultasi dengan Nabi. ‘Uwaimir bertanya: “Hai Ashim apa jawab Rasulalloh s.a.w. padamu?”

Ashim menjawab: “Saya tidak mendapatkan sesuatu yang baik, sungguh-sungguh Rasulullah s.a.w. benci dengan masalah yang saya tanyakan”.

Uwaimir berkata: “Demi Allah saya tidak akan berhenti menanyakan masalh ini kemudian berangkatlah Uwaimir hingga ia bertemu Rasulullah s.a.w. sedang berada di tengah-tengah manusia”.

‘Uwaimir bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu seorang suami yang memergoki istrinya bersama laki-laki lain, apakah ia harus membunuh selingkuhan itu atau berbuat apa?”

Rasulullah s.a.w. menjawab: “Sungguh-sungguh telah turun ayat Quran mengenai engkau dan istrimu maka bawalah istrimu kemari”.

Suhail menceritakan: “Suami isri itu bersumpah saling laknat dan kami bersama manusia di sisi Rasulullah s.a.w.

Ketika selesai sumpah, ‘Uwaimir mengatakan: “Aku telah dusta ya Rasulullah bila mempertahankan istriku”, maka ‘Uwaimir pun mentalaq tiga istrinya sebelum diperintah oleh Nabi s.a.w.

Ibnu Shihab menegaskan: “Demikian itulah sunah dua orang suami istri yang saling melaknat”.
[ Hadist Sunan Abi Dawud No. 2245 Kitabul Tholaq]

Iklan

One response to “Menuduh Istri Berselingkuh

  1. Sebaliknya klu yg suami kedapatan berzina hukumnya gmnya trims

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s