Wafatnya Umar bin Khatab dan Dibaiatnya Utsman bin Affan

Al-Qur'anHadist Shohih Bukhari No. 3700 Kitabu Fadhlil Ashabu Nabi memuat kisah wafatnya Khalifa Umar bin Khatab dan proses dibaiatnya Ustman bin Affan sebagai Khalifa pengganti.

Khalifa Umar meninggal dunia setelah ditikam oleh seorang budak musyrik bernama Abu Lu’lu’ah al-majusi sesaat setelah takbiratul ihram sholat subuh.

Menjelang wafatnya, Khalifa Umar bin Khatab memberikan beberapa hikmah, yaitu:

  • Ketika seorang pemuda memuji Umar sebagai seorang sahabat yang terus mendampingi perjuangan dakwah Rasulillah dan kemudian menjadi Amirul Mukminin yang adil Umar menjawab:“Saya sudah cukup bersukur seandainya kebaikanku selama menjadi Amir seimbang / impas dengan dosa-dosa yang aku perbuat”.

Ucapan Amirul Mukminin ini sebagai bentuk sifat rendah hati yang mengaku banyak kesalahan dan tidak merasa sebagai orang top yang paling besar jasanya.

  • Umar bin Khatab berwasiat agar khalifa penggantinya berbuat baik pada orang-orang Muhajir dan Ansor dan para awalul Mukminin; dengan cara mensyukuri kebaikan mereka, dan memaafkan kesalahan dan kekurangan mereka serta menjaga kehormatan mereka.

Kandungan lengkap Hadist Shohih Bukhari No. 3700 Kitabu Fadhlil Ashabu Nabi termuat di bawah ini.

Amri bin Maimun meriwayatkan:

Saya melihat Umar bin Khatab radhiyallohu anhu sehari sebelum terbunuhnya di Madinah,

Umar sedang berunding dengan Hudaifah bin Yamani dan Ustman bin Hunaif (tentang tugas keduanya sebagai gubernur di Iraq)

Umar berkata: “Bagaimana kalian berdua bekerja, jangan-jangan kalian membebani warga yang tidak mampu?”

Mereka berdua menjawab: “Kami akan membebani warga dengan perkara yang mereka mampu, yang tidak melebihi besarnya penghasilan mereka”.

Umar: “Kalian berhati-hatilah, jangan sampai membebani warga melebihi kemampuannya”.

Mereka menjawab: “Tidak”.

Umar: “Apabila Allah menyelamatkan saya, saya akan jadikan janda-janda warga Iraq mampu tidak tergantung pada laki-laki (suami) setelah matiku selamanya”.

Amri bin Maimun mengisahkan: “Empat hari setelah mereka Hudaifah bin Yamani dan Ustman bin Hunaif) menghadap Umar bin Khatab terbunuh,

Pada subuh terbunuhnya Umar saya sholat berjamaah di belakang Umar hanya tepat di depan saya ada Abdullah bin Abas.

Saat itu ketika Umar memeriksa shof kedua dia berkata: اسْتَوُوا , luruskan (shof kalian), sampai tidak ada celah dalam shof kemudian Umar maju dan takbir.

Biasanya Umar membaca Surat Yusuf atau Surat Nahl atau sejenisnya pada rakaat pertama sambil menunggu jamaah lain datang.

Tapi pada sholat terakhir itu saya hanya mendengarkan takbir diikuti suaranya: “Seseorang membunuhku” atau “Seekor anjing telah memakanku”, ketika itu seseorang menusuk Umar, seorang budak kafir menyerang dengan pisau bermata ganda.

Kemudian si pembunuh melarikan diri dengan menusuk orang-orang disekitarnya hingga terluka tiga belas laki-laki, dari mereka mati 8 orang.

Ketika itu seorang laki-laki Muslim menyergap si pembunuh dengan bajunya.

Menyadari dirinya telah terperangkap si penyerang itu menyembelih dirinya sendiri sampai mati.

Kemudian Umar menarik tangan Abdurahman bin Auf agar maju mengimami sholat.

Orang-orang yang dekat pengimaman bisa melihatnya sedang yang di pojok-pojok tidak mengetahui apa yang terjadi selain mereka tidak mendengarkan suara bacaan Imam, hingga mereka berteriak mengingatkan: “Subhanalloh, subhanalloh!”

Maka Abdurahman mengimami jamaah dengan sholat yang ringan.

Ketika selesai sholat Umar berkata: “Wahai Abas lihatlah siapa yang menyerangku”.

Abas pergi sebentar kemudian segera kembali dan mengatakan: “Budaknya Mughiroh”.

Umar: “Diakah pelakunya?”

Abas: “Benar”.

Umar: “Semoga Allah melaknatinya, saya mengajak mereka berbuat baik, Alhamdulillah aku tidak mati di tangan orang Islam, sungguh engkau dan ayahmu suka memperbanyak orang musrik di Madinah, dan kebanyakan mereka adalah budak”.

Abas: “Jika engkau (Umar) menghendaki kami bisa mengusir mereka atau membunuh mereka”.

Umar: “Keliru kalian, mereka sholat dengan kiblat mu, dan haji seperti kamu”.

Selanjutnya Umar dibawa pulang ke rumahnya dan kami mengikutinya dan jamaah merasa sebelumnya tidak pernah bersedih seperti saat itu.

Sebagian orang mengatakan tidak masalah (Umar pasti sembuh) sedang sebagian mengkhawatirkan keselamatan Umar.

Kemudian Umar diberi minum rendaman anggur maka keluar dari perutnya.

Kemudian diberi susu dan keluar mengalir dari lukanya maka jamaah menyadari Umar dalam kondisi kritis.

Maka kami masuk menjenguk dan para jamaah menghibur Umar.

Seorang pemuda berkata: “Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan janji Allah padamu, engkau telah mendampingi Rasulullah s.a.w. dan engkau menjadi awwalul mukminin kemudian engkau jadi Amir dan engkau berbuat adil”.

Umar: “Aku senang seandainya keamiranku ini impas, tidak menjadikan dosa dan tidak memberikan manfaat bagiku”.

Ketika pemuda itu pergi pakaian si pemuda menjuntai menyentuh lantai, Umar berkata: “Kembalilah engkau anak muda, angkatlah pakaianmu nak, pakaian cingkrang itu lebih baik dan lebih bertaqwa pada Tuhanmu”.

Umar: “Wahai anakku Abdullah, periksalah hutang-hutangku hitunglah dan temukan hutangku sebesar kurang lebih delapan puluh enam ribu,

jika harta kita mencukupi bayarlah hutang-hutangku dengan harta keluarga kita,

jika tidak mencukupi, mintalah bantuan Bani ‘Adi bin Ka’ab,

bila belum juga mencukupi, mintalah bantuan kerabat dalam Quraish, dan jangan ke luar dari suku Quraish

bayarkanlah harta-harta itu atas namaku.

Pergilah engkau pada Aishah Ummul Mu’minin, sampaikan salamku, dan jangan engkau katakan Amirul Mukminin, karena aku saat ini bukan Amirnya Orang Iman lagi,

Mintakanlah izin agar Umar bin Khatab dimakamkan bersama sahabatnya (Nabi Muhammad dan Abu Bakar)”.

Kemudian Ibnu Umar menemui Aishah yang saat itu duduk sampil menangis.

Abdullah bin Umar: “Ayahku Umar bin Khatab menyampaikan salam pada anda, dan minta izin agar dimakamkan di sisi kedua sahabatnya”.

Aishah menjawab: “Sesungguhnya saya menginginkan makam di sisi Nabi dan ayahku untuk diriku sendiri, dan hari ini aku khususkan makam itu untuk ayahmu mengalahkan aku”.

Ketika Abdullah bin Umar kembali pulang disampaikan, “Ini Abdullah bin Umar telah kembali”.

Umar: “Angkatlah saya”, kemudian seorang laki-laki menyandarkan Umar bin Khatab pada putranya.

Umar: “Bagaimana hasilnya?”

Abdullah: “Seperti yang engkau harapkan wahai Amirul Mukminin, ibu Aishah memberikan ijinnya”.

Umar bin Khatab: “Alhamdulillah, tidak ada hal yang lebih berat bagiku selain minta ijin pada Aishah, apabila telah sampai ajalku bawalah aku, salamlah pada Aishah, katakan: ‘Umar bin Khatab kembali minta ijin dimakamkan di sini’, jika Aishah masih mengijinkan maka masukkanlah aku namun bila Aishah berubah pikiran maka kembalilah dan makamkan aku di pemakaman Islam”.

Datanglah Ummul Mu’minin Hafshoh berjalan bersama beberapa wanita.

Ketika melihat mereka, kami berdiri, dan mereka masuk pada Umar kemudian menangis beberapa saat.

Kemudian seorang laki-laki datang dan masuk, kami semua mendengar tangisan mereka.

Mereka berkata: “Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin, tunjuklah khalifa pengganti.

Umar menjawab: “Saya tidak melihat yang lebih berhak atas keamairan daripada beberapa orang ini yaitu orang-orang yang Rasulullah s.a.w. waktu wafat senang pada mereka”.

Kemudian Umar menyebut nama beberapa orang, Ali, Ustman, Zubair, Tholhah, Said dan Abdurrahman (bin Auf).

Umar berkata: “Aku persaksikan pada kalian bahwa Abdullah bin Umar, anakku, tidak berhak atas kekhalifahan sedikitpun”.

Umar berkata: “Aku berwasiat pada khalifa setelah aku agar berbuat baik pada orang-orang muhajir dan para awalul mukminin, agar memahami hak-hak mereka dan agar menjaga kehormatan mereka.

Dan aku berwasiat agar para khalifa berbuat baik pada orang-orang ansor, yang telah menyediakan rumah dan keamanan sebelum kedatangan para muhajir,

Agar kalian mensyukuri kebaikan-kebaikan mereka (ansor) dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka,

Dan saya berwasiat agar kalian berbuat baik pada keluarga orang ansor, sebab merekalah yang menolong Islam,

Dan berbuat baiklah pada pembayar pajak dan musuh-musuh yang marah dan janganlah memungut pajak dari mereka kecuali bagi yang mampu dengan ridho,

Aku berpesan pada khalifah penggantiku agar berbuat baik pada orang-orang desa sebab merekalah asal-usul oran Arab dan mereklah pejuang-pejuang pendukung Islam,

Pungutlah zakat orang-orang kaya dan berikan pada orang-orang fakir,

Dan tetapilah hak-hak orang kafir dzimi, jangan memusuhi mereka dan jangan memaksa kecuali sebatas kemampuan mereka ,”.

Ketika Umar bin Khatab telah wafat kami membawa keluar dan berangkat berjalan mengantar jenazah.

Abdullah bin Umar mengucap salam dan minta izin pada Ibu Aisha: “Ayahku Umar bin Khatab kembali minta izin padamu untuk dimakamkan di sisi dua sahabatnya (Nabi dan Abu Bakar)”.

Aishah menjawab: “Masukkanlah jenazah itu”.

Maka Abdullah memakamkan Umar disamping dua sahabatnya (Nabi dan Abu Bakar).

Setelah selesai pemakaman berkumpullah orang-orang yang disebutkan Umar.

Abdurrahman berkata: “Saya serahkan masalah keamiran pada tiga orang dari kalian”.

Zubair berkata: “Saya serahkan keamiran pada Ali”.

Tholhah berkata: “Saya serahkan perkara keimaman pada Ustman”.

Said berkata: “Kalau saya memilih Abdurrahman bin Auf”.

Abdurrahman berkata: “Siapakah diantara kalian yang mau mundur dari perkara ini, maka aku akan menjadikannya Amir sebagai pilihan Allah dan Orang Islam, yang pasti mengetahui keistimewaan diri kalian?”

Kedua orang (Ustman dan Ali) diam.

Abdurrahman kembali berkata: “Apakah kalian ingin saya yang menentukan siapa yang lebih berhak?”

Ali dan Ustman menjawab: “Silakan”.

Abdurrahman kemudian menarik tangan salah satu dari mereka dan berkata: ”Engkaulah kerabat Rasulillah s.a.w. yang lebih dulu masuk Islam yang saya ketahui,

Demi Allah seandainya engkau menjadi Amir pasti engkau bisa adil dan jika aku menjadikan Ustman sebagai Amir kalian pasti akan mendengarkan dan taat ”.

Kemudian Abdurrahman berbicara dengan yang satunya (Ali) dan mengatakan hal yang sama.

Ketika mereka mengambil sumpah, Abdurrahman berkata: “Angkatlah tanganmu wahai Ustman”.

Maka Ustman membaiat Abdurahhamn bin Auf dan Ali juga berbaiat pada Ustman, setelah itu warga Madinah berbondong-bondong masuk berbaiat pada Ustman

3700 – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، قَالَ: رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَبْلَ أَنْ يُصَابَ بِأَيَّامٍ بِالْمَدِينَةِ، وَقَفَ عَلَى حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ، وَعُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ، قَالَ: ” كَيْفَ فَعَلْتُمَا، أَتَخَافَانِ أَنْ تَكُونَا قَدْ حَمَّلْتُمَا الأَرْضَ مَا لاَ تُطِيقُ؟ قَالاَ: حَمَّلْنَاهَا أَمْرًا هِيَ لَهُ مُطِيقَةٌ، مَا فِيهَا كَبِيرُ فَضْلٍ، قَالَ: انْظُرَا أَنْ تَكُونَا حَمَّلْتُمَا الأَرْضَ مَا لاَ تُطِيقُ، قَالَ: قَالاَ: لاَ، فَقَالَ عُمَرُ: لَئِنْ سَلَّمَنِي اللَّهُ، لَأَدَعَنَّ أَرَامِلَ أَهْلِ العِرَاقِ لاَ يَحْتَجْنَ إِلَى رَجُلٍ بَعْدِي أَبَدًا، قَالَ: فَمَا أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا رَابِعَةٌ [ص:16] حَتَّى أُصِيبَ، قَالَ: إِنِّي لَقَائِمٌ مَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ، إِلَّا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ غَدَاةَ أُصِيبَ، وَكَانَ إِذَا مَرَّ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ، قَالَ: اسْتَوُوا، حَتَّى إِذَا لَمْ يَرَ فِيهِنَّ خَلَلًا تَقَدَّمَ فَكَبَّرَ، وَرُبَّمَا قَرَأَ سُورَةَ يُوسُفَ، أَوِ النَّحْلَ، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ , فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى حَتَّى يَجْتَمِعَ النَّاسُ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ كَبَّرَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: قَتَلَنِي – أَوْ أَكَلَنِي – الكَلْبُ، حِينَ طَعَنَهُ، فَطَارَ العِلْجُ بِسِكِّينٍ ذَاتِ طَرَفَيْنِ، لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ يَمِينًا وَلاَ شِمَالًا إِلَّا طَعَنَهُ، حَتَّى طَعَنَ ثَلاَثَةَ عَشَرَ رَجُلًا، مَاتَ مِنْهُمْ سَبْعَةٌ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ طَرَحَ عَلَيْهِ بُرْنُسًا، فَلَمَّا ظَنَّ العِلْجُ أَنَّهُ مَأْخُوذٌ نَحَرَ نَفْسَهُ، وَتَنَاوَلَ عُمَرُ يَدَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَدَّمَهُ، فَمَنْ يَلِي عُمَرَ فَقَدْ رَأَى الَّذِي أَرَى، وَأَمَّا نَوَاحِي المَسْجِدِ فَإِنَّهُمْ لاَ يَدْرُونَ، غَيْرَ أَنَّهُمْ قَدْ فَقَدُوا صَوْتَ عُمَرَ، وَهُمْ يَقُولُونَ: سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ، فَصَلَّى بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ صَلاَةً خَفِيفَةً، فَلَمَّا انْصَرَفُوا قَالَ: يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، انْظُرْ مَنْ قَتَلَنِي، فَجَالَ سَاعَةً ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: غُلاَمُ المُغِيرَةِ، قَالَ: الصَّنَعُ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: قَاتَلَهُ اللَّهُ، لَقَدْ أَمَرْتُ بِهِ مَعْرُوفًا، الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَجْعَلْ مِيتَتِي بِيَدِ رَجُلٍ يَدَّعِي الإِسْلاَمَ، قَدْ كُنْتَ أَنْتَ وَأَبُوكَ تُحِبَّانِ أَنْ تَكْثُرَ العُلُوجُ بِالْمَدِينَةِ، – وَكَانَ العَبَّاسُ أَكْثَرَهُمْ رَقِيقًا – فَقَالَ: إِنْ شِئْتَ فَعَلْتُ، أَيْ: إِنْ شِئْتَ قَتَلْنَا؟ قَالَ: كَذَبْتَ بَعْدَ مَا تَكَلَّمُوا بِلِسَانِكُمْ، وَصَلَّوْا قِبْلَتَكُمْ، وَحَجُّوا حَجَّكُمْ. فَاحْتُمِلَ إِلَى بَيْتِهِ فَانْطَلَقْنَا مَعَهُ، وَكَأَنَّ النَّاسَ لَمْ تُصِبْهُمْ مُصِيبَةٌ قَبْلَ يَوْمَئِذٍ، فَقَائِلٌ يَقُولُ: لاَ بَأْسَ، وَقَائِلٌ يَقُولُ: أَخَافُ عَلَيْهِ، فَأُتِيَ بِنَبِيذٍ فَشَرِبَهُ، فَخَرَجَ مِنْ جَوْفِهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِلَبَنٍ فَشَرِبَهُ فَخَرَجَ مِنْ جُرْحِهِ، فَعَلِمُوا أَنَّهُ مَيِّتٌ، فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ، وَجَاءَ النَّاسُ، فَجَعَلُوا يُثْنُونَ عَلَيْهِ، وَجَاءَ رَجُلٌ شَابٌّ، فَقَالَ: أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ بِبُشْرَى اللَّهِ لَكَ، مِنْ صُحْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدَمٍ فِي الإِسْلاَمِ مَا قَدْ عَلِمْتَ، ثُمَّ وَلِيتَ فَعَدَلْتَ، ثُمَّ شَهَادَةٌ، قَالَ: وَدِدْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَفَافٌ لاَ عَلَيَّ وَلاَ لِي، فَلَمَّا أَدْبَرَ إِذَا إِزَارُهُ يَمَسُّ الأَرْضَ، قَالَ: رُدُّوا عَلَيَّ الغُلاَمَ، قَالَ: يَا ابْنَ أَخِي ارْفَعْ ثَوْبَكَ، فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ، وَأَتْقَى لِرَبِّكَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، انْظُرْ مَا عَلَيَّ مِنَ الدَّيْنِ، فَحَسَبُوهُ فَوَجَدُوهُ سِتَّةً وَثَمَانِينَ أَلْفًا أَوْ نَحْوَهُ، قَالَ: إِنْ وَفَى لَهُ، مَالُ آلِ عُمَرَ فَأَدِّهِ مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَإِلَّا فَسَلْ فِي بَنِي عَدِيِّ بْنِ كَعْبٍ، فَإِنْ لَمْ تَفِ أَمْوَالُهُمْ فَسَلْ فِي قُرَيْشٍ، وَلاَ تَعْدُهُمْ إِلَى غَيْرِهِمْ، فَأَدِّ عَنِّي هَذَا المَالَ انْطَلِقْ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ، فَقُلْ: يَقْرَأُ عَلَيْكِ عُمَرُ السَّلاَمَ، وَلاَ تَقُلْ أَمِيرُ المُؤْمِنِينَ، فَإِنِّي لَسْتُ اليَوْمَ لِلْمُؤْمِنِينَ أَمِيرًا، وَقُلْ: يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ أَنْ يُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيْهِ، فَسَلَّمَ وَاسْتَأْذَنَ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهَا، فَوَجَدَهَا قَاعِدَةً تَبْكِي، فَقَالَ [ص:17]: يَقْرَأُ عَلَيْكِ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ السَّلاَمَ، وَيَسْتَأْذِنُ أَنْ يُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيْهِ، فَقَالَتْ: كُنْتُ أُرِيدُهُ لِنَفْسِي، وَلَأُوثِرَنَّ بِهِ اليَوْمَ عَلَى نَفْسِي، فَلَمَّا أَقْبَلَ، قِيلَ: هَذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، قَدْ جَاءَ، قَالَ: ارْفَعُونِي، فَأَسْنَدَهُ رَجُلٌ إِلَيْهِ، فَقَالَ: مَا لَدَيْكَ؟ قَالَ: الَّذِي تُحِبُّ يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ أَذِنَتْ، قَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ، مَا كَانَ مِنْ شَيْءٍ أَهَمُّ إِلَيَّ مِنْ ذَلِكَ، فَإِذَا أَنَا قَضَيْتُ فَاحْمِلُونِي، ثُمَّ سَلِّمْ، فَقُلْ: يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، فَإِنْ أَذِنَتْ لِي فَأَدْخِلُونِي، وَإِنْ رَدَّتْنِي رُدُّونِي إِلَى مَقَابِرِ المُسْلِمِينَ، وَجَاءَتْ أُمُّ المُؤْمِنِينَ حَفْصَةُ وَالنِّسَاءُ تَسِيرُ مَعَهَا، فَلَمَّا رَأَيْنَاهَا قُمْنَا، فَوَلَجَتْ عَلَيْهِ، فَبَكَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً، وَاسْتَأْذَنَ الرِّجَالُ، فَوَلَجَتْ دَاخِلًا لَهُمْ، فَسَمِعْنَا بُكَاءَهَا مِنَ الدَّاخِلِ، فَقَالُوا: أَوْصِ يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ اسْتَخْلِفْ، قَالَ: مَا أَجِدُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَذَا الأَمْرِ مِنْ هَؤُلاَءِ النَّفَرِ، أَوِ الرَّهْطِ، الَّذِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَنْهُمْ رَاضٍ، فَسَمَّى عَلِيًّا، وَعُثْمَانَ، وَالزُّبَيْرَ، وَطَلْحَةَ، وَسَعْدًا، وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ، وَقَالَ: يَشْهَدُكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، وَلَيْسَ لَهُ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ – كَهَيْئَةِ التَّعْزِيَةِ لَهُ – فَإِنْ أَصَابَتِ الإِمْرَةُ سَعْدًا فَهُوَ ذَاكَ، وَإِلَّا فَلْيَسْتَعِنْ بِهِ أَيُّكُمْ مَا أُمِّرَ، فَإِنِّي لَمْ أَعْزِلْهُ عَنْ عَجْزٍ، وَلاَ خِيَانَةٍ، وَقَالَ: أُوصِي الخَلِيفَةَ مِنْ بَعْدِي، بِالْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ، أَنْ يَعْرِفَ لَهُمْ حَقَّهُمْ، وَيَحْفَظَ لَهُمْ حُرْمَتَهُمْ، وَأُوصِيهِ بِالأَنْصَارِ خَيْرًا، {الَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ} ، أَنْ يُقْبَلَ مِنْ مُحْسِنِهِمْ، وَأَنْ يُعْفَى عَنْ مُسِيئِهِمْ، وَأُوصِيهِ بِأَهْلِ الأَمْصَارِ خَيْرًا، فَإِنَّهُمْ رِدْءُ الإِسْلاَمِ، وَجُبَاةُ المَالِ، وَغَيْظُ العَدُوِّ، وَأَنْ لاَ يُؤْخَذَ مِنْهُمْ إِلَّا فَضْلُهُمْ عَنْ رِضَاهُمْ. وَأُوصِيهِ بِالأَعْرَابِ خَيْرًا، فَإِنَّهُمْ أَصْلُ العَرَبِ، وَمَادَّةُ الإِسْلاَمِ، أَنْ يُؤْخَذَ مِنْ حَوَاشِي أَمْوَالِهِمْ، وَيُرَدَّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، وَأُوصِيهِ بِذِمَّةِ اللَّهِ، وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُوفَى لَهُمْ بِعَهْدِهِمْ، وَأَنْ يُقَاتَلَ مِنْ وَرَائِهِمْ، وَلاَ يُكَلَّفُوا إِلَّا طَاقَتَهُمْ، فَلَمَّا قُبِضَ خَرَجْنَا بِهِ، فَانْطَلَقْنَا نَمْشِي، فَسَلَّمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، قَالَتْ: أَدْخِلُوهُ، فَأُدْخِلَ، فَوُضِعَ هُنَالِكَ مَعَ صَاحِبَيْهِ، فَلَمَّا فُرِغَ مِنْ دَفْنِهِ اجْتَمَعَ هَؤُلاَءِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: اجْعَلُوا أَمْرَكُمْ إِلَى ثَلاَثَةٍ مِنْكُمْ، فَقَالَ الزُّبَيْرُ: قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عَلِيٍّ، فَقَالَ طَلْحَةُ: قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عُثْمَانَ، وَقَالَ سَعْدٌ: قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: أَيُّكُمَا تَبَرَّأَ مِنْ هَذَا الأَمْرِ، فَنَجْعَلُهُ إِلَيْهِ وَاللَّهُ عَلَيْهِ وَالإِسْلاَمُ، لَيَنْظُرَنَّ أَفْضَلَهُمْ فِي نَفْسِهِ؟ فَأُسْكِتَ الشَّيْخَانِ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: أَفَتَجْعَلُونَهُ إِلَيَّ وَاللَّهُ عَلَيَّ أَنْ لاَ آلُ عَنْ أَفْضَلِكُمْ قَالاَ: نَعَمْ، فَأَخَذَ بِيَدِ أَحَدِهِمَا فَقَالَ: لَكَ قَرَابَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالقَدَمُ فِي [ص:18] الإِسْلاَمِ مَا قَدْ عَلِمْتَ، فَاللَّهُ عَلَيْكَ لَئِنْ أَمَّرْتُكَ لَتَعْدِلَنَّ، وَلَئِنْ أَمَّرْتُ عُثْمَانَ لَتَسْمَعَنَّ، وَلَتُطِيعَنَّ، ثُمَّ خَلاَ بِالْآخَرِ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، فَلَمَّا أَخَذَ المِيثَاقَ قَالَ: ارْفَعْ يَدَكَ يَا عُثْمَانُ فَبَايَعَهُ، فَبَايَعَ لَهُ عَلِيٌّ، وَوَلَجَ أَهْلُ الدَّارِ فَبَايَعُوهُ “

[Hadist Shohih Bukhari No. 3700 Kitabu Fadhlil Ashabu Nabi]

Iklan

One response to “Wafatnya Umar bin Khatab dan Dibaiatnya Utsman bin Affan

  1. Pernah denger ceritanya waktu ngaji, baru tau kalo sedetail ini. mantep

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s