Mandi Jinabat

Mandi jinabat adalah cara bersuci bagi seorang pria yang mengeluarkan air mani dari farjinya atau sepasang suami istri yang telah melakukan hubungan seksual.

Semula mandi jinabat tidak wajib bila suami belum mengeluarkan mani dalam hubungan intim, namun kemudian ketentuan ini dimansuh. Ketika kedua kemaluan suami dan istri telah bertemu maka keduanya wajib mandi jinabat meskipun tidak keluar mani.

Mandi jinabat juga disunahkan untuk laki-laki Muslim yang hendak melaksanakan sholat Jum’at.

1088 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ: «مَنْ أَتَى الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ»
__________
[حكم الألباني] صحيح

Ibnu Umar meriwayatkan: Saya mendengar Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Barang siap hendak datang pada sholat Jum’at maka mandilah”.
[Hadist Ibnu Majah No. 1088 Kitabu Iqomati Sholah wa Sunnati fiiha]

84 – (346) حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ ح، وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، – وَاللَّفْظُ لَهُ -، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُصِيبُ مِنَ الْمَرْأَةِ ثُمَّ يُكْسِلُ؟ فَقَالَ: «يَغْسِلُ مَا أَصَابَهُ مِنَ الْمَرْأَةِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ، وَيُصَلِّي»

Ubay bin Ka’ab bertanya pada Rasulallohu sholallohu alaihi wasallam tentang laki laki yang menjima’ istrinya namun tidak keluar mani.

Nabi menjawab: “Basuhlah kemaluanmu kemudian berwudhulah dan sholatlah”.
[Hadist Shohih Muslim No. (346) – 84 Kitabu Haid]

Hadist Muslim No. (346) – 84 Kitabu Haid tersebut dimansuh dengan hadist berikut:

87 – (348) وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَأَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ، ح، وَحَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ بَشَّارٍ قَالُوا: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، وَمَطَرٌ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ» وَفِي حَدِيثِ مَطَرٍ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ قَالَ زُهَيْرٌ: مِنْ بَيْنِهِمْ بَيْنَ أَشْعُبِهَا الْأَرْبَعِ.

Sesungguhnya Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Ketika empat cabang (paha kedua pasangan suami istri) telah bertemu kemudian berjima’ maka sungguh-sungguh keduanya wajib mandi jinabat”.

Dalam hadistnya Mathor menyebutkan “Sekalipun belum keluar mani”.
[Hadist Shohih Muslim No. (348) – 87 Kitabu Haid]

Tata-cara Mandi Jinabat

Sebagaimana dicontohkan dalam Hadist Muslim No. (316) – 35 Kitabu Haid, tata-cara mandi jinabat bagi orang yang sedang menyandang hadast junub, meliputi:

  1. Membasuh kedua tangan
  2. Membasuh farji
  3. Berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat
  4. Mencelupkan tangan dalam air kemudian membasahi kulit kepala dengan cara memasukkan jari-jemari ke dalam pangkal rambut sampai basah merata.
  5. Mengambil air dengan tangan (nyawuk) dan mengguyur kepala dengan air sebanyak 3 kali
  6. Meratakan air guyuran ke seluruh tubuh
35 – (316) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ. ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ. ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ. ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ. حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ. ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ. ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ»

Aisyah meriwayatkan:

Rasulullah sholallohu alaihi wasallam ketika mandi jinabat, pertama kali membasuh kedua tangannya kemudian dengan tangan kananya menyiram tangan kirinya lalu membasuh farjinya.

Kemudian Nabi berwudhu sebagaimana wudhu hendak sholat, kemudian mengambil air dan memasukkan jari jemarinya ke pangkal rambutnya sampai terlihat merata basah rambutnya.

Mengguyur kepalanya sebanyak tiga kali kemudian meratakan air ke suluruh tubuhnya kemudian membasuh kakinya.
[Hadist Shohih Muslim No. (316) – 35 Kitabu Haid]

Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s