Larangan-larangan Selama Ihram Haji dan Umrah

Salah satu rukun haji dan umroh adalah ihram. Ihram adalah amalan yang terdiri dari mandi jinabat plus wudhu, sholat 2 rakaat, mengucap niat haji atau umroh atau keduanya dan mengenakan pakaian ihram.

Haji mabrur adalah haji yang tidak disertai dengan pelanggaran baik pelanggaran selama ihram maupun pelanggaran syariat pada umumnya.

Ihram dimulai dari miqot dan berakhir dengan tahalul, mencukur gundul atau memotong rambut kepala.

Bagi jamaah umroh tahallul dilakukan di bukit Marwa setelah selesai melaksanakan sai, sedangkan untuk jamaah haji, tahallul dilakukan setelah melempar jumrah aqobah di Mina pada Yaumu Nahr 10 Dzul-Hijjah.

Dengan tahallul berarti jamaah telah selesai ihramnya dan bebas dari larangan-larangan ihram, kecuali jamaah haji belum boleh menjima’ sebelum tawaf ifadho.

Selama ihram, jamaah haji atau umrah hendaknya memperhatikan berbagai larangan ihram haji dan umrah. Pelanggaran terhadap beberapa larangan ini jamaah dikenakan fidyah atau dam hingga batal hajinya.

Larangan-larangan selama ihram haji dan umrah yaitu:

  1. Memotong / mencabut kuku, rambut dan semua bulu di badan.
  2. Jamaah yang sedang ihrom haji maupun umrah tidak boleh memotong atau mencabut kuku, rambut, dan semua bulu di badan. Pelanggaran terhadap larangan ini jamaah dikenai fidyah / tebusan berupa 3 pilihan:

    • Puasa 3 hari atau,
    • Memberi makan 6 orang miskin atau,
    • Menyembelih 1 ekor kambing
    1860 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي أَبَانُ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ، قَالَ: أَصَابَنِي هَوَامُّ فِي رَأْسِي وَأَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ، حَتَّى تَخَوَّفْتُ عَلَى بَصَرِي [ص:173] فَأَنْزَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيَّ {فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ} [البقرة: 196] الْآيَةَ. فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي: «احْلِقْ رَأْسَكَ، وَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ فَرَقًا مِنْ زَبِيبٍ أَوْ انْسُكْ شَاةً» ، فَحَلَقْتُ رَأْسِي، ثُمَّ نَسَكْتُ.

    Ka’ab bin Ujroh Al-Anshori meriwayatkan:

    Saya terkena kutu kepala ketika bersama Rasulillah sholallohu alaihi wa sallam sedang melaksanakan haji pada masa Hudaibiyah hingga saya takut mengganggu mataku.

    Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat:

    {فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ} [البقرة: 196] الْآيَةَ

    Artinya: “Barangsiapa ada diantara kalian sakit atau mengalami gangguan di kepalanya . . . al-ayat”.

    Maka Rasulullah sholallohu alaihi wasallam memanggil aku (Ka’ab bin Ujroh) dan bersabda: “Cukurlah rambutmu, dan berpuasalah tiga hari, atau memberi makan enam orang miskin 1 faroq (3 sho’) kurma kering, atau menyembelih 1 ekor kambing”.

    Kemudian saya mencukur gundul kepalaku dan menyembelih.
    [Hadist Sunan Abi Dawud No. 1860 Kitabu Manasik]

  3. Berburu atau membunuh hewan buruan, menyuruh orang untuk berburu atau membantu orang berburu.
  4. Pelanggaran terhadap larangan ini dikenakan kafaroh menyembelih dam (kambing, sapi atau unta). Namun demikian Nabi memperbolehkan orang ihram membunuh hewan-hewan berbahaya seperti: ular, kala jengking, tikus, burung gagak, dan anjing galak.

    1849 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ أَبِيهِ، وَكَانَ الْحَارِثُ، خَلِيفَةُ عُثْمَانَ عَلَى الطَّائِفِ فَصَنَعَ لِعُثْمَانَ طَعَامًا فِيهِ مِنَ الحَجَلِ وَالْيَعَاقِيبِ وَلَحْمِ الْوَحْشِ، قَالَ: فَبَعَثَ إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَجَاءَهُ الرَّسُولُ وَهُوَ يَخْبِطُ لِأَبَاعِرَ لَهُ فَجَاءَهُ وَهُوَ يَنْفُضُ الْخَبَطَ عَنْ يَدِهِ، فَقَالُوا لَهُ: كُلْ، فَقَالَ: أَطْعِمُوهُ قَوْمًا حَلَالًا؛ فَأَنَا حُرُمٌ فَقَالَ: عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْشُدُ اللَّهَ مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ أَشْجَعَ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْدَى إِلَيْهِ رَجُلٌ حِمَارَ وَحْشٍ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَهُ؟ “، قَالُوا: نَعَمْ
    __________
    [حكم الألباني] : صحيح

    Abdillah bin Al-Harits mengisahkan dari ayahnya (Al-Harits) – Al-Harits adalah gubernurnya Ustman bin Affan di wilayah Thoif, membuatkan makanan yang terdiri dari burung puyuh dan hewan liar.

    Al-Harist mengisahkan: ”Usman mengutus seseorang pada Ali bin Abi Tholib maka utusan itu menghadap pada Ali yang sedang memberi makan ontanya dan kemudian menurunkan dedaunan dari tangannya”.

    Utusan berkata: “Makanlah”.

    Ali menjawab: “Berilah makan orang-orang yang halal, sesungguhnya saya sedang ihram”.

    Kemudian Ali bertanya: “Demi Allah saya bertanya pada orang-orang suku Ashja’ adakah kalian mengetahui sesungguhnya Rasulullah sholallohu alaihi wasallam pernah diberi hadiah oleh seseorang onta liar (buruan), dan Nabi sedang ihrom, maka Nabi menolak memakannya?”.

    Orang-orang Ashja’ menjawab: “Benar!”
    [Hadist Abi Dawud No. 1849 Kitabu Manasik]

    1847 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ، حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” خَمْسٌ قَتْلُهُنَّ حَلَالٌ فِي الْحُرُمِ: الْحَيَّةُ، وَالْعَقْرَبُ، وَالْحِدَأَةُ، وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ ”
    __________
    [حكم الألباني] : حسن صحيح

    Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Lima hewan boleh dibunuh ketika sedang ihram: ular, kala jengking, burung elang, tikus, hewan yang melukai”.
    [Hadist Sunan Abi Dawud No. 1847 Kitabu Manasik]

  5. Menikah, menikahkan dan Meminang / Melamar
  6. Rasulullah melarang Muslimin yang ihram menikah, menikahkan maupun melamar. Orang ihram yang menikah, menikahkan maupun melamar hukumnya dosa dan nikahnya tidak sah.

    1841 – حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ نُبَيْهِ بْنِ وَهْبٍ، أَخِي بَنِي عَبْدِ الدَّارِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَرْسَلَ إِلَى أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ يَسْأَلُهُ وَأَبَانُ يَوْمَئِذٍ أَمِيرُ الْحَاجِّ وَهُمَا مُحْرِمَانِ إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أُنْكِحَ طَلْحَةَ بْنَ عُمَرَ، ابْنَةَ شَيْبَةَ بْنِ جُبَيْرٍ فَأَرَدْتُ أَنْ تَحْضُرَ ذَلِكَ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِ أَبَانُ، وَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ أَبِي عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكِحُ» .
    __________
    [حكم الألباني] : صحيح

    Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah orang yang ihrom menikah dan jangan menikahkan”.
    [Hadist Sunan Abi Dawud No. 1841 Kitabu Manasik]

  7. Menjima’ / Bersenggama Suami Istri
  8. Pelanggaran haji paling berat adalah Rofats atau bersetubuh suami istri saat ihram.

    Menurut Hadist Mautho Al-Imamu Malik No. 151 dan 152 Kitabul Haji, jamaah yang jimak saat ihram wajib membayar dam masing-masing satu ekor onta dan hajinya batal sehingga wajib kembali haji tahun depan.

    Jika perbuatan menjima’ setelah lempar jumrah aqobah tapi belum tawaf ifadho kafarohnya cukup menyembelih seekor onta dan umrah satu kali lagi, dan hajinya tetap sah.

    151 – حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَعَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأَبَا هُرَيْرَةَ سُئِلُوا: عَنْ رَجُلٍ أَصَابَ أَهْلَهُ وَهُوَ مُحْرِمٌ بِالْحَجِّ؟ فَقَالُوا: «يَنْفُذَانِ يَمْضِيَانِ لِوَجْهِهِمَا [ص:382] حَتَّى يَقْضِيَا حَجَّهُمَا. ثُمَّ عَلَيْهِمَا حَجُّ قَابِلٍ وَالْهَدْيُ» ، قَالَ وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: «وَإِذَا أَهَلَّا بِالْحَجِّ مِنْ عَامٍ قَابِلٍ تَفَرَّقَا حَتَّى يَقْضِيَا حَجَّهُمَا»

    Malik menghadap pada Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib dan Aba Hurairah, mereka ditanya soal laki-laki yang menjima’ istrinya sedangkan ia sedang ihram haji? Mereka menjawab supaya meneruskan dan menyelesaikan hajinya sampai selesai dan wajib bagi keduanya haji tahun depan dan membayar hadiyah.

    Malik berkata: dan Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Ketika mereka ihram haji tahun depan pisahkanlah keduanya sampai selesai haji mereka”.
    [Hadist Mautho Al-Imamu Malik No. 151 Kitabul Haji]

  9. Pelanggaran-pelanggaran Lain
  10. Kaum Muslimin yang sedang ihram waktu haji maupun umrah hendaknya menjauhi larangan-larangan berikut ini:

    • Berdusta / berbohong
    • Berkata tidak senonoh / jorok / porno
    • Mengumpat, mencaci dan bertengkar
    • Berdebat / saling membantah

    Pelanggaran terhadap larangan lain ini kafaroh cukup bertaubat dan membaca istighfar.

    Perbuatan jelek ini bisa mempengaruhi kemabruran haji dan umrah.

    الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ (197)

    (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rofas, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.

    Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.

    Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.
    [Surah Al-Baqarah ayat 197]

Iklan

Berikan komentar yang relevan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s