Category Archives: Faroid

Waris Ayah dan Ibu

Di antara prinsip-prinsip ilmu faroid dalam Islam antara lain:

  • LDII - Waris Ayah Ibu -Dalam pembagian harta waris tidak dikenal bilangan desimal pecahan tak terhingga, seperti: 0.176470588…, 0.052631579… dan seterusnya. Pembagi harus berupa pecahan bulat sehingga nominal harta dapat dibagi habis bulat tanpa sisa pecahan, seperti: ½, ¼, 1/8, 1/20 dan seterusnya.
  • Diantara nilai bagian beberapa ahli waris yang tidak sama harus ditemukan bilangan kelipatan sehingga keseluruhan harta bisa dibagi bulat habis. Bilangan pembagi itu disebut dengan ASHAL MASHALAH [اصل المسألة].
  • Nilai bilangan pembagi untuk masing-masing ahli waris telah ditetapkan dalam Kitabillah sesuai dengan kedudukan dan hubungan ahli waris dengan si mayit. Di antara ahli waris ada yang ditetapkan sebagai AHLI WARIS ASHOBAH, yang bagiannya tidak menurut ketentuan Quran namun berupa sisa dari ahli waris-ahli waris lainnya. Ahli waris ashobah ditetapkan oleh Rasulillah adalah laki-laki yang tertua dari struktur ahli waris; kakek, ayah atau anak laki-laki. Menarik sekali, lanjut ah!
Iklan

Waris Anak Tunggal Perempuan

LDII - Waris Anak Tunggal PerempuanAl-Quran Surah An-Nisa’ ayat 11-14 adalah dasar utama ilmu Faroid, pembagian harta waris. Salah satu kandungan penting dalam ayat tersebut bahwa ketentuan Allah soal pembagian harta waris bisa jadi tidak sejalan dengan pandangan dan logika manusia.

Pembagian harta menurut pandangan manusia sangat subyektif dan dipengaruhi rasa emosional. Bagi seseorang, pembagian harta kepada anak-anak, keluarga atau sanak famili sangat dipengaruhi rasa suka tidak suka, siapa yang paling dekat, siapa yang paling disayangi itulah yang akan mendapatkan bagian lebih banyak.

…آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا* سورة النساء اية 11

… ayah kalian dan anak-anak kalian jangan memandang siapakah yang lebih dekat bagimu manfaatnya, ketetapan dari Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat dan maha Menghukumi.

[Surah An-Nisa (4) Ayat 11]

Menarik sekali, lanjut ah!

Kasus-kasus Unik Pembagian Waris

(LDII) Ilmu FaroidSelain masalah batalnya kewarisan, Kitab Himpunan Faroid yang dirilis oleh LDII, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, mencatat beberapa kasus unik tentang pembagian harta waris. Ada tiga faktor penyebab batalnya hubungan waris dalam keluarga atau famili, yaitu: batalnya kewarisan karena anak zina, karena perbedaan agama, dan karena pembunuhan.

Seseorang yang telah membunuh pewarisnya maka ia tidak lagi berhak atas harta warisan yang ditinggalkan oleh orang yang dibunuhnya.

2109 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «القَاتِلُ لَا يَرِثُ»
__________
[حكم الألباني] : صحيح

… Nabi s.a.w. bersabda: “Orang yang membunuh tidak berhak atas waris”.

[Hadist Sunan Termizi No. 2109 Abwabul Faroid]

Sedangkan kasus-kasus unik dalam masalah pembagian harta waris antara lain:

  1. Waris orang banci
  2. Seseorang yang mati tidak memiliki ahli waris.
  3. Waris anak yang diduga hasil perselingkuhan.
  4. Waris janin baru lahir.
  5. Waris anak temuan.
  6. Waris ashobah.

Sangat bermanfaat kajiannya, sayang kalau gak dibaca terus!

Hukum Wasiat dan Waris Dalam Islam

(LDII) Wasiat dan WarisHadist Sunan Termizi No. 2117 Kitabul Washoya meriwayatkan sepasang suami istri yang selama hidupnya (60 tahun) bertaqwa kepada Allah namun ketika meninggal dunia mereka berdua masuk neraka karena pada akhir hayatnya mereka meninggalkan wasiat yang keliru kepada ahli warisnya.

Ini peringatan bagi kaum Muslimin pentingnya mengkaji dan memahami syariat Islam tentang wasiat dan waris agar tidak melanggar dari ketentuan Allah dan Rasulullah s.a.w.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 180-182, Allah Ta’ala mewajibkan orang-orang yang bertaqwa agar meninggalkan wasiat yang bagus (benar menurut ketentuan Allah dan Rasulullah s.a.w.). Bagi orang yang mendengarkan wasiat hendaknya menetapi wasiat itu sebab mengganti wasiat yang ia telah mendengarkannya adalah dosa. Sedangkan merubah wasiat yang menyimpang (tidak sesuai ketentuan syariat) itu diperbolehkan alias tidak berdosa. Kajian yang luar biasa, sayang kalau tidak dilanjutkan baca!

Batalnya Kewarisan Karena Perbedaan Agama

Beberapa perkara dapat membatalkan kewarisan dalam suatu keluarga atau famili, salah satunya adalah karena perbedaan agama. Orang Islam yang meninggal dunia tidak dapat mewariskan hartanya pada keluarga atau familinya yang tidak Islam. Begitu pula sebaliknya, seorang Muslim tidak dapat mewarisi harta orang tuanya yang belum Islam.

Pemahaman ini bisa dikaji dalam Hadist Sunan Ibnu Majah No.2730 Kitabu Faroid. Dalam hadist tersebut Nabi ditanya oleh Usmah bin Zaid apakah beliau akan menempati rumah beliau yang ada di Mekah yaitu almarhum pamannya Abi Tholib. Nabi menjawab bahwa rumah itu tidak ditinggalkan / diwariskan untuk beliau. Rumah itu bisa diwaris oleh putra Abi Tholib yang belum Islam yaitu ‘Akil dan Tholib. Sedangkan anak-anak Abi Tholib yang Islam yaitu Ali dan Ja’far juga tidak berhak mewarisi harta ayahnya, Abi Tholib.
Baca lebih lanjut

Waris Keluarga Islam dan Non Islam

Di sekitar kita sering dijumpai keluarga campuran beda agama. Orang tua Islam anak tidak Islam atau sebaliknya anak-anaknya Islam tapi orang tua bukan Islam. Bahkan tidak jarang suami istri beda agama. Bagaimanakah pembagian harta waris terhadap keluarga campuran semacam ini?

Bhukhari dan Ibnu Majah menjawab persoalan tersebut. Dalam hadist shohih Bukhori No. 6764 Kitabul Faroid dan Ibnu Majah No. 2729 dengan jelas ditegaskan bahwa seorang Muslim tidak dapat mewaris harta orang tuanya yang tidak Islam. Begitu pula sebaliknya seorang Muslim tidak bisa mewariskan hartanya pada anak-anaknya yang beda agama / non Islam. Artinya hukum faroid Islam tidak berlaku bagi keluarga campuran Islam dan Non Islam.
Baca lebih lanjut

Wajibnya Belajar Faroid

quran_ldiiKetika seseorang telah meninggal dunia kewajiban umat Islam terutama ahli warisnya adalah membagi harta peninggalan si mayit sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulullah sesegera mungkin.

Pembagian harta waris yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah akan berakibat siksa Allah di akhirat sebagaimana tertulis dalam Quran Surat An-Nisa ayat 14:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ (14)
“Barang siapa menentang (tidak taat) dan melanggar peraturan-peraturan Allah, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka…”

Memutus ahli waris atau meninggalkan ahli waris dalam pembagian harta peninggalan orang mati juga diancam tidak akan masuk surga sesuai sabda Nabi dalam hadist Sunan Said bin Mansyur Kitabul Faroid:

285 – سَعِيدٌ قَالَ: نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ أَبِي سَلَمَةَ الْكِنَانِيِّ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَطَعَ مِيرَاثًا فَرَضَهُ اللَّهُ، قَطَعَ اللَّهُ مِيرَاثَهُ مِنَ الْجَنَّةِ»
Rasulullah salallohu alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa memutus warisan yang telah ditentukan oleh Allah yang Maha Luhur, Allah akan memutus warisannya di surga”.

Baca lebih lanjut