Category Archives: Thoharoh

Najisnya Kencing dan Wajibnya Bersuci

Hadist Shohih Muslim No. (292)-111 Kitabu Thoharoh mengisahkan seorang ahli kubur yang disiksa karena tidak mau bersuci dari kencing semasa hidupnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: «أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ» ، قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا»

Ibnu Abas meriwayatkan: Rasulullah sholalllohu alaihi wasallam lewat pada dua kuburan, kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya dua mayat dalam kuburan ini disiksa, bukan karena perkara yang besar. Salah satunya karena dia berjalan kemana-mana dengan menghasut sedangkan yang satunya tidak bersuci dari kencingnya”

Kemudian Rasulullah minta sebuah pelepah kurma basah lalu membelahnya menjadi dua bagian selanjutnya menancapkan 2 belahan pada masing-masing kuburan terus bersabda: “Semoga saja mereka diringankan siksanya selama pelepah ini belum kering”.

Ini merupakan peringatan bagi kaum Muslimin agar hati-hati menjaga kesucian dan tidak sembrono dengan masalah najis.
Baca lebih lanjut

Tata Cara Berwudhu

LDII - Wudhu -Suci adalah syarat sahnya shalat. Seseorang tidak dikatakan shalat bila tidak suci badan dan tempatnya. Salah satu cara mensucikan diri adalah dengan berwudhu. Walau demikian seorang Muslim tidak harus berwudhu setiap akan shalat. Sekali wudhu bisa digunakan untuk sholat beberapa kali selagi belum batal.

وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الكَعْبَيْنِ}

Firman Allah yang Maha Mulya: “Ketika engkau hendak shalat basuhlah wajahmu, dan kedua tanganmu sampai sikut, dan usaplah kepalamu dan dua kakimu sampai mata kaki”.
[Surah Al-Maidah ayat 6]
Penting nih, baca terus ah!

Batalnya Wudhu

LDII - Batalnya Wudhu - Tidak ada yang membatalkan wudhu kecuali sesuatu yang keluar dari dua lubang: farji dan dubur. Jadi yang membuat wudhu seseorang batal yaitu: kentut, berak, kencing, keluarnya air mani dan madzi. Khusus laki-laki yang mengeluarkan mani tidak hanya wajib berwudhu namun juga harus mandi jinabat. Keluarnya darah haid dan nifas pada wanita juga membatalkan wudhu.

Sementara itu keluarnya darah dari luka kulit, atau nanah yang keluar dari jerawat atau borok tidak membuat wudhu seseorang batal. Keluarnya darah dan dahak dari mulut juga tidak membatalkan wudhu. Seseorang yang batal wudhunya saat sedang mengerjakan shalat maka batal pula shalatnya dan harus mengulangi wudhu dan shalat dari awal.
Menarik, baca terus ah!

Sunnah Memelihara Jenggot

LDII - Sunah Memelihara Jenggot - Rasulullah shalallohu alaihi wasallam memerintahkan kaum Muslimin mencukur tipis kumis dan melebatkan jenggot. Memelihara jenggot menjadi sunnah dalam Islam karena tidak ada ancaman siksa bagi orang Islam yang tidak memiliki jenggot. Orang yang benci sunnah berjenggot atau tidak suka orang berjenggot bukanlah golongan Nabi alias dia bukan orang Islam.

2763 – حَدَّثَنَا الحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الخَلَّالُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «احْفُوا الشَّوَارِبَ وَاعْفُوا اللِّحَى» : «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ»
__________
[حكم الألباني] : صحيح

… Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tipiskanlah kumis dan lebatkan jenggot”.

[Hadist Sunan Termidzi No. 2763 Kitabul Adab]

Asyik nih, baca terus ah!

Keutamaan Berwudhu

LDII - Keutamaan BerwudhuMeskipun, berwudhu tidak termasuk dalam Rukun Islam namun seorang Muslim wajib berwudhu sebelum shalat. Wudhu merupakan syarat sahnya sholat. Bukanlah shalat bila seseorang tidak berwudhu.

Selain itu amalan berwudhu juga memiliki keutamaan yang sangat besar. Sebagaimana tertulis dalam hadist Termizi No. 2, seorang Muslim yang sedang berwudhu maka rontoklah dosa-dosa yang telah dia perbuat bersama tetesan air wudhu.
Bagus sekali, baca terus ah!

Wanita Haid Saat Haji

haid-waktu-hajiPersoalan klasik bagi setiap wanita Muslim, yaitu haid ketika sedang melaksanakan Ibadah Haji. Masalah ini tidak perlu dikhawatirkan karena haid tidak mencegah atau membatalkan ibadah haji. Wanita yang haid bisa melaksanakan semua rukun haji kecuali satu tidak boleh yaitu Tawaf di Baitullah.

Hadist shohih Bukhari No. 1650-1651 Kitabu Haji dan Hadist Sunan Ibni Majah No. 2963 Kitabu Manasik menerangkan tuntunan Rasulullah SAW bagi wanita-wanita yang sedang mengalami haid saat melaksanakan ibadah haji. Muslimah yang tidak dapat mengerjakan tawaf atau umrah karena terbentur haid bisa melaksanakan tawaf atau umrah hajinya setelah selesai pelaksanaan haji. Kategori haji seperti ini disebut Haji Ifrod, yaitu melaksanakan umrah haji di luar bulan Haji.

Seperti yang dialami Aisyah ketika melaksanakan Haji Wada’ bersama Nabi. Rasulullah SAW memerintahkan Aisyah untuk mengerjakan haji sebagaimana umat Islam lain dan menunda umrah setelah selesai haji dengan mengambil Miqot di Tan’im. Hmm asyik juga, baca terus ah!

Bacaan Setelah Berwudhu

wudhu-ldiiApa yang harus dibaca seorang Muslim ketika selasai berwudhu? Mudah. Bacaan setelah wudhu adalah:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،

“Asyhadu alla ilaaha illaAlloh wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuuluhu”

Ini sesuai dengan sabda Nabi yang teercantum dalam Hadist Sunan Nasa’i No. 148 Kitabu Thoharoh: “Barang siapa berwudhu dan membagusi wudhunya kemudian mengucap “Asyhadu alla ilaaha illaAlloh wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuuluhu”, dibukakan baginya delapan pintu surga yang ia masuk dari pintu manapun yang dikehendakinya”.

148 – أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حَرْبٍ الْمَرْوَزِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ وَأَبِي عُثْمَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فُتِّحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ»
__________
[حكم الألباني] صحيح