Tag Archives: LDII

Kitabu ‘Ilal Hadist Sunan Termidzi

Salah satu keunikan hadist Termidzi adalah karena mencantumkan hadist dhoif di dalam kitabnya.

Kitabu ‘Ilal merupakan catatan lampiran Hadist Sunan Termidzi yang berisi perihal cacatnya hadist-hadist.

Dalam sarah Kitabul ‘Ilal Termidzi menjelaskan, beliau Termidzi bertujuan menunjukkan pada manusia tentang keadaan para perowi dhoif itu karena beliau merasa cinta dengan agama Islam dan ingin menjaga kemurniannya.

Menurut Termidzi kesaksian tentang ilmu agama lebih wajib dijaga dibanding kesaksian tentang hak-hak dan harta manusia.
Baca lebih lanjut

Pondok Kutubusittah LDII

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali menunjukkan komitmennya menyebarkankan agama Islam di tanah air, dengan membuka kelas baru pengajian hadist besar atau yang lebih dikenal Kutubu Sittah.

Gedung Pondok Kutubu sittah mulai beroperasi 20 Oktober 2014 berdiri di atas tanah seluas 200m2 dibangun dalam lingkungan Pondok Pesantren Al-Barokah Desa Sruni Kecamatan Gedangan Sidoarjo. Gedung pondok yang reperesentatif ini dilengkapi fasilitas ruang kantor, ruang tamu dan ruang pertemuan serta halaman parkir yang memadai.

Pondok Kutubusittah Al-Barokah saat ini memulai program pertama yaitu Pengkhataman Hadist Sunan Termidzi. Tidak kurang dari 50 (lima puluh) orang berasal dari penjuru Indonesia mengikuti pengajaran gelombang pertama ini. Khataman Hadist Sunan Termidzi direncanakan berlangsung selama 45 hari dan selesai tanggal 5 Desember 2014.
Menarik sekali, baca terus ah!

Hewan Buas Bertaring

Selain daging babi dan bangkai seperti tertulis dalam Surah Al-Maidah ayat 3, syariat Islam mengharamkan bagi kaum Muslimin makan binatang buas yang bertaring dan burung yang mempunyai cakar kuat. Larangan makan daging hewan buas bertaring dan burung yang mempunyai cakar kuat bisa dikaji dalam Bab no. 13 Kitabushoidi (28) Hadist Ibnu Majah jilid 3.

3233 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ، ح وحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ، وَإِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، قَالَا: حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي حَكِيمٍ، عَنْ عَبِيدَةَ بْنِ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَكْلُ، كُلِّ ذِي نَابٍ، مِنَ السِّبَاعِ، حَرَامٌ»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… Nabi s.a.w. bersabda: “Makan, setiap yang memiliki taring dari binatang buas adalah HARAM”.
[Hadist Ibnu Majah No. 3233 Kitabushoidi]

Menarik sekali, lanjut ah!

Khataman Hadist Ibnu Majah di Pondok Wali Barokah

Hari pertama tahun ini Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) memulai dengan khataman Hadist Ibnu Majah Jilid 3 di Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri Jawa Timur. Tidak kurang dari 30.000 (tiga puluh ribu) jamaah Muslim hadir dari seluruh Indonesia mengikuti Pengajian Akbar yang dibuka oleh Walikota terpilih Kediri Abdullah Abu Bakar, SE. Majlis Ilmi terbesar di lingkungan LDII ini direncanakan berlangsung 1 – 15 Januari 2014.

Pengkhataman hadist ini bertujuan untuk menyebarkan Sunnah Nabi yang terkandung dalam Hadist Ibnu Majah kepada seluruh masyarakat Muslim Indonesia. Menarik sekali, lanjut ah!

Bahaya!, Jangan Menyentuh Yang Bukan Mahrom

Nasehat LDII - Menjaga Pandangan MataPerbuatan zina merupakan dosa besar dalam Islam. Zina adalah perangkap iblis paling ampuh untuk menyeret manusia ke dalam siksa neraka. Setan menggoda manusia tidak pandang bulu, apakah orang alim atau orang jahil, orang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata. Tidak ada jaminan apapun seseorang bebas dari pelanggaran zina.

Melindungi diri dari dosa zina tidak cukup dengan mempertebal keimanan. Juga tidak bisa hanya dengan berbekal banyak ilmu agama. Dalam kisah, banyak orang alim dan fakih yang terjerumus dalam perbuatan maksiat yang paling dibenci oleh Allah itu.

Menjaga diri dari perbuatan zina dibutuhkan usaha keras menjauhi segala sebab dan jalan yang menuju perzinaan. Pelanggaran had zina sering dimulai dari coba-coba atau mengerjakan perbuatan remeh yang menjurus pada sensualitas. Menahan diri, tidak mengumbar hawa nafsu adalah tabiat nyata yang harus dimilki setiap orang beriman.

Beberapa tuntunan Allah dan Nabi s.a.w. untuk mencegah perbuatan zina anatara lain: Menarik sekali, lanjut ah!

Ridha Tuhan Ada Dalam Ridha Kedua Orang Tua

Nasehat LDII - Birul Walidaini.Salah satu syariat Islam terpenting adalah berbuat bagus terhadap kedua orang tua. Berbuat baik kepada ayah dan ibu bersifat mutlak tanpa syarat, apakah orang tua kita itu orang beriman atau tidak, apakah mereka itu orang kaya yang dapat memanjakan anaknya ataukah mereka orang biasa yang tidak dapat mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Hanya satu batas dalam birul walidaini yaitu apabila orang tua mengajak kemaksiatan atau menghalangi kita untuk bertaqwa pada Allah maka kita tidak boleh mentaatinya.

Saking wajibnya seorang anak berbakti kepada kedua orang tua, Allah Azza wa Jalla menggandeng perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah beribadah kepadaNya. Bahkan Rasulullah s.a.w. menjamin bahwa ridha Allah ada di dalam ridho kedua orang tua. Sebaliknya murka ayah dan ibu berarti murka Allah pula.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…

Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua dengan sungguh-sungguh.

[Surah An-Nisa’ (4) ayat 36]

Hmm, bagus sekali, lanjut ah!

Sunah Puasa 6 Hari Bulan Syawal

(LDII) Sunah Puasa 6 Hari Bulan Syawal.Apabila Idul Fitri sabagai perayaan setelah puasa Ramadhan, dalam budaya masyarakat Muslim Indonesia ada Hari Raya Ketupat yang merupakan perayaan setelah melaksanakan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal.

Orang beriman memang tidak akan henti-henti terhadap kebaikan. Setelah menyelesaikan kewajiban puasa Ramadhan, pada bulan Syawal ini siap menunggu kebaikan yang lain yaitu puasa sunah enam hari. Berpuasa 6 hari bulan Syawal pahalanya sebanding dengan puasa satu tahun penuh. Sungguh satu amalan yang sayang bila dilewatkan.

Sunah puasa enam hari bulan Syawal berdasarkan Sunnah Nabi s.a.w. sebagaimana tertulis dalam hadist Muslim No. 204 – (1164) dan hadist Ibni Majah No. 1715 Kitabushiam. Puasa bulan Syawal boleh dikerjakan berturut turut atau secara acak, yang penting genap enam hari. Lanjut ah!